Kenalkan Konservasi Air Sejak Dini, 230 Siswa SMP Labschool Cibubur Belajar Teknologi Air Hujan di SAH Banyu Bening Sleman

  • Apr 23, 2026
  • Adnan Nurtjahjo
  • Pendidikan

Sleman — Sebanyak 230 siswa Kelas VIII SMP Labschool Cibubur mengikuti kegiatan pembelajaran teknologi pemanfaatan air hujan di Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman pada Kamis (23/4/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya edukasi lingkungan berbasis praktik langsung yang mengedepankan inovasi pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan.

Dalam kunjungan tersebut, para siswa dikenalkan pada teknologi ISLAH (Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan), sebuah sistem yang dirancang untuk menangkap, menyaring, dan menyimpan air hujan agar dapat dimanfaatkan kembali dalam kehidupan sehari-hari. Teknologi ini dinilai relevan sebagai solusi alternatif menghadapi potensi krisis air bersih di masa depan.

Para siswa tidak hanya menerima materi teoritis, namun juga diajak melihat secara langsung proses kerja instalasi ISLAH. Mulai dari tahap penangkapan air melalui atap bangunan, proses filtrasi bertingkat, hingga penyimpanan dalam tangki khusus yang menjaga kualitas air tetap layak digunakan.

Selain itu, siswa juga mempelajari teknologi elektrolisa air hujan yang digunakan untuk meningkatkan kualitas air melalui proses pemisahan senyawa menggunakan arus listrik. Metode ini memberikan pemahaman ilmiah kepada siswa mengenai potensi pengolahan air berbasis teknologi sederhana namun efektif.

Pendiri Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih menjelaskan bahwa edukasi semacam ini penting untuk menanamkan kesadaran sejak dini terkait pentingnya konservasi air. Menurutnya, air hujan merupakan sumber daya yang melimpah namun belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.

Kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran kontekstual bagi siswa, di mana mereka dapat memahami keterkaitan antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan isu lingkungan global. “Pendekatan ini diharapkan mampu membentuk pola pikir kritis sekaligus solutif terhadap permasalahan lingkungan,” tandasnya.

Sri Wahyuningsih juga menjelaskan tentang konsep 5 M (Menampung, Mengolah, Minum, Menabung, Mandiri). Pada konsep menampung diperkenalkan tekhnologi ISLAH dimana air hujan disaring melalui 3 kali filterisasi. Sedangkan dalam konsep mengolah, diperkenalkan tekhnologi Elektrolisa.Ccara kerjanya dengan memecah molekul air H2O di pecah menjadi gas Hidrogen(H2) dan gas oksigen (O2) agar meningkatkan kualitas air hujan yang sudah bagus menjadi air bermulti fungsi. 

Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir generasi muda yang tidak hanya memahami pentingnya pelestarian lingkungan, tetapi juga mampu berkontribusi secara nyata melalui inovasi teknologi sederhana yang berdampak luas bagi keberlanjutan sumber daya air. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)