Pendidikan Berbasis Budaya Lokal Jadi Fokus Rakorpim Kapanewon Gamping
- Jun 18, 2026
- Adnan Nurtjahjo
- Budaya
Sleman — Gelaran pameran Konferensi Pendidikan Indonesia (KPI) bertema “Budaya Lokal Pembelajaran Global” menjadi salah satu agenda utama dalam Rapat Koordinasi Pimpinan (Rakorpim) Kapanewon Gamping yang digelar di Ruang Rapat Puntadewa Kalurahan Ambarketawang, Gamping, Sleman, Kamis (18/6/2026).
Rakor yang dipandu oleh Panewu Anom Gamping, Kurnia Astuti dihadiri Panewu Gamping, Suyanto bersama jajarannya, Kepala Kepolisian Sektor Gamping, AKP Bowo Susilo, Pelda Acip Mulyawana mewakili Komandan Koramil 17/Gamping, Kepala Puskesmas Gamping I dan II, Kepala Kantor Urusan Agama, Kepala Stasiun Geofisika Yogyakarta, Lurah, Direktur Bumkalma, Koordinator PKH, Koordinator PLKB, Koordinator Pendamping Desa, serta KIM Kapanewon Gamping.
Dalam forum tersebut, perwakilan Koordinator Wilayah Layanan Pendidikan Kapanewon Gamping, Heri Purwanto, memaparkan sejumlah persiapan yang telah dilakukan menjelang pameran Konferensi Pendidikan Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada 1 hingga 2 Juli 2026 di Auditorium Universitas Negeri Yogyakarta dengan mengangkat isu kekayaan budaya khas Yogyakarta sebagai media pembelajaran yang relevan di tingkat global.
Heri menjelaskan bahwa tema “Budaya Lokal Pembelajaran Global” dipilih sebagai upaya memperkuat identitas budaya daerah sekaligus menunjukkan bahwa nilai-nilai kearifan lokal memiliki daya tarik dan manfaat pendidikan yang dapat dipelajari masyarakat luas. Salah satu budaya yang akan ditampilkan adalah tradisi Upacara Adat Bekakak yang menjadi warisan budaya masyarakat Ambarketawang.
Menurutnya, Upacara Adat Bekakak sebagai warisan budaya takbenda tidak hanya memiliki nilai historis dan spiritual, namun juga mengandung berbagai nilai pendidikan seperti gotong royong, kebersamaan, pelestarian budaya, serta penghormatan terhadap sejarah dan tradisi masyarakat setempat. Nilai-nilai tersebut dinilai sangat relevan untuk dikenalkan kepada generasi muda melalui pendekatan pendidikan kontekstual.
“Melalui pameran ini, peserta didik dapat belajar langsung dari budaya yang hidup di tengah masyarakat. Bekakak bukan sekadar tradisi, melainkan sumber pembelajaran yang kaya akan nilai karakter, sejarah, dan identitas budaya,” ujar Heri di hadapan peserta rapat.
Ia menambahkan bahwa penyelenggaraan konferensi dan pameran pendidikan tersebut menjadi momentum penting untuk memperlihatkan bagaimana sekolah-sekolah di wilayah Gamping yang terdiri dari Pendidikan Anak Usia Dini, Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat mampu mengintegrasikan budaya lokal ke dalam proses pembelajaran yang inovatif dan berorientasi global tanpa meninggalkan akar budaya daerah.
“Konferensi Pendidikan Indonesia ini menjadi wadah penting untuk menunjukkan praktik-praktik baik pendidikan yang memadukan kemajuan pembelajaran dengan pelestarian budaya lokal,” imbuhnya.
Kesepahaman yang terbangun dalam Rakor Pimpinan Tingkat Kapanewon Gamping menjadi landasan kuat bagi dukungan lintas sektor terhadap penyelenggaraan Pameran Konferensi Pendidikan Indonesia. Melalui kegiatan ini, budaya lokal diharapkan semakin diakui sebagai aset pendidikan yang memiliki nilai universal, sekaligus menjadi media pembelajaran yang efektif dalam menyiapkan generasi masa depan yang berkarakter, adaptif, dan berwawasan global. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)