Atasi Krisis Air Bersih, Mahasiswa KKN UST dan Sekolah Air Hujan Banyu Bening Edukasi Warga Klaten
- Feb 01, 2026
- Adnan Nurtjahjo
- Lingkungan Hidup
Sleman — Pemanfaatan air hujan sebagai solusi kemandirian air bersih terus dikampanyekan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap air tanah. Langkah strategis ini diwujudkan melalui kolaborasi antara mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Padepokan 5 Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta dengan Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman. Mereka menggelar sosialisasi pemanfaatan air hujan sebagai air minum sehat di Desa Kadilanggon, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, pada Minggu (1/2/2026).
Kegiatan ini menyasar berbagai elemen masyarakat, mulai dari perangkat desa, tokoh masyarakat, hingga ibu rumah tangga. Fokus utama peristiwa ini adalah memberikan pemahaman mendalam bahwa air hujan bukan sekadar sisa alam yang terbuang, melainkan sumber air minum alternatif yang sangat layak dikonsumsi jika dikelola dengan teknik yang benar. Di tengah tantangan penurunan kualitas air tanah di berbagai wilayah, edukasi ini menjadi oase bagi warga untuk mendapatkan sumber kehidupan yang lebih murah dan berkelanjutan.
Dosen Pembimbing Lapangan KKN Padepokan 5, Ahmad Syauqi Hidayatullah, menjelaskan bahwa air minum berkualitas adalah fondasi utama kesehatan keluarga. Ia menilai pemanenan air hujan merupakan solusi nyata bagi wilayah yang sering mengalami kendala akses air bersih. Menurutnya, air hujan memiliki nilai strategis yang selama ini sering terabaikan karena kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai sistem penampungan dan pengolahan sederhana yang efektif.
“Air hujan merupakan anugerah alam yang dapat dimanfaatkan secara optimal melalui pengelolaan yang tepat, sekaligus menjadi langkah menjaga keberlanjutan lingkungan. Kami ingin mengubah pola pikir masyarakat agar tidak lagi membiarkan air hujan mengalir sia-sia ke selokan, padahal jika diolah dengan benar, air ini jauh lebih sehat dan membantu ekonomi keluarga karena mengurangi ketergantungan pada air kemasan,” ujar Ahmad Syauqi Hidayatullah di hadapan warga Kadilanggon.
Pendiri SAH Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih, yang hadir sebagai narasumber utama, membedah secara teknis prinsip dasar pemanenan air hujan. Ia menekankan bahwa kunci utama dari kualitas air minum ini terletak pada standar kebersihan wadah serta ketelatenan dalam merawat instalasi. Warga tidak hanya diberikan teori, tetapi juga diajak menyaksikan demonstrasi praktik filtrasi dan sterilisasi secara langsung agar mereka mampu mereplikasi sistem tersebut secara mandiri di rumah masing-masing.
“Jangan pernah takut mengonsumsi air hujan selama teknik penangkapannya benar. Yang paling krusial adalah memastikan talang dan wadah penampungan selalu dalam kondisi bersih serta menggunakan sistem penyaringan awal untuk membuang debu atau kotoran dari atap. Jika proses penyaringan dan pengolahan dilakukan sesuai standar, air hujan ini sangat aman, sehat, dan bahkan lebih segar dibandingkan sumber air lainnya,” tegas Sri Wahyuningsih saat memperagakan teknik filtrasi.
Antusiasme warga terlihat sangat tinggi selama sesi diskusi, terutama saat membahas mengenai keamanan jangka panjang dan efisiensi biaya instalasi. Banyak warga yang mulai menyadari bahwa ketergantungan tinggi pada air tanah dapat berdampak buruk bagi lingkungan di masa depan. Melalui sinergi antara akademisi dan praktisi lingkungan ini, diharapkan Desa Kadilanggon menjadi pelopor gerakan mandiri air yang bisa dicontoh oleh wilayah sekitarnya demi menjaga kedaulatan air di tingkat rumah tangga. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)