Waspadai Dampak Buruk Gawai, Komunitas OPSI Edukasi Warga Gamping Sleman Cara Cegah Myopia

  • Jun 21, 2026
  • Adnan Nurtjahjo
  • Kesehatan

Sleman — Tingginya intensitas interaksi masyarakat dengan perangkat digital di era modern memicu lonjakan kasus gangguan penglihatan, terutama pada usia anak-anak. Merespons ancaman tersebut, Komunitas Optometris Sejati Indonesia (OPSI) turun ke lapangan guna mengedukasi warga mengenai pentingnya menjaga organ penglihatan. Kampanye kesehatan mata yang menyasar pencegahan kelainan refraksi ini diselenggarakan di Kronggahan I, Kalurahan Trihanggo, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, pada Minggu (21/6/2026).

Fokus utama dari peristiwa ini menyoroti pergeseran pola hidup masyarakat yang kian adiktif terhadap gawai, yang secara klinis terbukti mempercepat risiko penambahan minus mata atau myopia (rabun jauh). OPSI menilai, masyarakat sering kali baru menyadari adanya kerusakan mata ketika ketajaman visualnya sudah menurun drastis. Melalui penyuluhan interaktif ini, warga dibekali pemahaman praktis mengenai deteksi dini gejala myopia serta diperkenalkan pada rumus kesehatan mata internasional untuk menekan ketegangan saraf optik harian.

Koordinator Tim Edukasi dari Komunitas OPSI, Ryandi Ferdiyansah, memaparkan bahwa kebiasaan visual yang buruk seperti membaca di tempat redup dan menatap layar ponsel terlalu dekat menjadi pemicu utama otot mata dipaksa bekerja ekstra keras. Jika kondisi ini dibiarkan tanpa adanya jeda istirahat yang ideal, bola mata akan mengalami pemanjangan aksial yang memicu rabun jauh permanen.

“Kesadaran menjaga kesehatan mata perlu dibangun sejak usia anak-anak. Banyak gangguan penglihatan yang sebenarnya dapat dicegah apabila masyarakat memahami pentingnya pemeriksaan mata secara rutin dan menerapkan kebiasaan yang baik. Perubahan pola aktivitas masyarakat yang semakin dekat dengan penggunaan perangkat digital turut menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya myopia,” ujar Ryandi Ferdiyansah secara lugas di hadapan warga Trihanggo.

Ia menguraikan, langkah pencegahan myopia sejatinya sangat mudah dan murah untuk dipraktikkan di rumah. Salah satu metode ilmiah yang paling direkomendasikan adalah aturan istirahat mata 20-20-20. Melalui rumus ini, setiap kali seseorang menatap layar komputer atau gawai selama 20 menit, mereka wajib mengistirahatkan mata selama 20 detik dengan cara mengalihkan pandangan melihat objek jauh yang berjarak 20 kaki atau sekitar 6 meter.

Lebih lanjut, Ryandi Ferdiyansah meminta para orang tua untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku fisik anak-anak mereka. Gejala awal kelainan refraksi sering kali ditunjukkan lewat kebiasaan anak yang sering menyipitkan mata saat melihat televisi, kesulitan membaca tulisan di papan tulis sekolah, hingga keluhan pusing dan mata mudah lelah pasca-belajar. Jika tanda-tanda tersebut muncul, pemeriksaan klinis menyeluruh menggunakan lensa korektif minus harus segera dilakukan oleh tenaga ahli agar tidak mengganggu prestasi akademis anak.

“Kegiatan pengabdian masyarakat ini menjadi sarana bagi OPSI untuk mendekatkan layanan edukasi kesehatan mata kepada warga. Melalui pendekatan langsung, masyarakat mendapatkan informasi mengenai pentingnya menjaga organ penglihatan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesehatan secara menyeluruh. Selain penggunaan alat bantu, memperbanyak aktivitas fisik di luar ruangan di bawah paparan cahaya alami matahari juga efektif membantu mengurangi ketegangan mata,” kata Ryandi Ferdiyansah menambahkan.

Melalui program edukasi keliling yang menyasar akar rumput ini, OPSI berharap warga Kapanewon Gamping dapat lebih bijak dalam mengatur durasi penggunaan teknologi digital keluarga. Ketepatan penanganan dan kedisiplinan menerapkan pola hidup sehat diyakini berbanding lurus dengan terjaganya kualitas penglihatan masyarakat. Langkah preventif ini diharapkan mampu membentengi produktivitas kerja orang dewasa serta mencetak generasi muda Kabupaten Sleman yang sehat secara fisik dan optimal dalam menuntut ilmu. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)