Atasi Krisis Air Bersih, Sekolah Air Hujan Banyu Bening Edukasi Jemaat GKJ Condongcatur

  • Apr 26, 2026
  • Adnan Nurtjahjo
  • Lingkungan Hidup

Sleman — Kesadaran akan pentingnya kemandirian air bersih terus digaungkan di tengah ancaman perubahan iklim dan penurunan muka air tanah. Pendiri Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih, mengajak jemaat Gereja Kristen Jawa (GKJ) Condongcatur untuk mengubah cara pandang terhadap air hujan, dari sekadar fenomena alam menjadi berkat yang harus dikelola secara bijak.

Dalam kegiatan Persekutuan Warga Dewasa yang digelar di ruang ibadah GKJ Condongcatur, Depok, Sleman, Minggu (26/4/2026), Sri Wahyuningsih menekankan bahwa air hujan memiliki peran vital bagi keseimbangan ekosistem. Ia menyayangkan masih banyaknya masyarakat yang mengabaikan potensi air hujan sebagai sumber air alternatif yang melimpah dan ramah lingkungan.

Sri Wahyuningsih menyoroti paradoks yang terjadi di masyarakat saat ini, di mana banyak warga tinggal di daerah dengan curah hujan tinggi namun tetap terbebani biaya tinggi untuk mendapatkan air layak konsumsi. Menurutnya, ketergantungan berlebih pada air tanah tanpa adanya upaya konservasi yang seimbang dapat memicu dampak lingkungan serius seperti kekeringan permanen di masa depan.

“Meskipun masyarakat hidup dan tinggal di daerah yang cukup tinggi curah hujannya, namun mereka masih harus mengeluarkan biaya besar untuk bisa mendapatkan air layak konsumsi. Padahal, jika dikelola dengan benar, air hujan adalah solusi gratis dan berkualitas yang disediakan alam,” ujar Sri Wahyuningsih di hadapan para jemaat.

Dalam sosialisasi tersebut, ia memperkenalkan konsep 5M yang dikembangkan SAH Banyu Bening, yakni Menampung, Mengolah, Minum, Menabung, dan Mandiri. Melalui metode pemanenan air hujan ini, setiap rumah tangga diharapkan mampu memenuhi kebutuhan air bersihnya sendiri tanpa merusak cadangan air tanah. Langkah ini dinilai sangat efektif untuk meningkatkan ketahanan ekonomi sekaligus menjaga kelestarian bumi.

“Pemanfaatan air hujan tidak hanya berdampak pada aspek lingkungan, tetapi juga ekonomi. Dengan mengelola air hujan secara optimal, masyarakat dapat mengurangi biaya penggunaan air sekaligus meningkatkan ketahanan terhadap krisis air bersih yang mulai melanda berbagai wilayah,” tambahnya.

Materi tersebut disambut hangat oleh jemaat yang antusias mendiskusikan teknis pengolahan air hujan di rumah masing-masing. Pengurus Komisi Warga Dewasa GKJ Condongcatur, Dwi Astuti, memberikan apresiasi atas edukasi ini dan menilai pesan tersebut sangat relevan untuk membangun kesadaran kolektif dalam menghadapi tantangan krisis air di masa mendatang.

Dwi Astuti menegaskan bahwa menjaga dan memanfaatkan air hujan dengan baik merupakan bentuk tanggung jawab moral yang nyata. Ia berharap jemaat dapat menindaklanjuti edukasi ini dengan aksi praktis di lingkungan rumah masing-masing sebagai wujud kepedulian terhadap ciptaan Tuhan.

“Semoga warga jemaat GKJ Condongcatur bisa menindaklanjuti dengan tindakan nyata. Kami semakin menyadari bahwa mensyukuri dan mengelola air hujan tidak hanya kegiatan pragmatis untuk memenuhi kebutuhan semata, namun juga merupakan bentuk tanggung jawab dalam memanfaatkan dan merawat segenap ciptaan-Nya,” pungkas Dwi Astuti. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)