Tingkatkan Keselamatan Atlet, Calon Wasit Olahraga Tradisional Sleman Dibekali Ilmu Manajemen Cedera
- Jun 13, 2026
- Adnan Nurtjahjo
- Olahraga
Sleman — Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) Kabupaten Sleman menaikkan standar profesionalisme perangkat pertandingan dengan membekali mereka pemahaman medis dasar. Dalam agenda Pelatihan Wasit Permainan dan Olahraga Tradisional Batch III yang berlangsung di Gedung Youth Center Sleman pada Sabtu (13/6/2026), puluhan calon wasit mendapatkan pembekalan khusus mengenai manajemen cedera lapangan. Langkah ini diambil untuk memastikan aspek keselamatan atlet tetap menjadi prioritas utama di tengah ketatnya persaingan kompetisi fisik tradisional.
Fokus utama dari pelatihan ini adalah mengubah paradigma bahwa olahraga tradisional bebas dari risiko kecelakaan kerja. Dinamika gerakan dalam permainan rakyat yang kompetitif dinilai memiliki tingkat kerawanan yang setara dengan cabang olahraga modern, sehingga kesiapsiagaan pengadil pertandingan di garis lapangan mutlak diperlukan untuk menghindari fatalitas cedera.
Dosen Program Studi Fisioterapi Universitas Aisyiyah Yogyakarta, Andry Ariyanto, yang hadir sebagai pakar kebugaran menegaskan bahwa penguasaan manajemen cedera kini menjadi salah satu kompetensi wajib bagi seorang wasit profesional. Pengetahuan ini sangat krusial mengingat karakteristik olahraga tradisional yang didominasi oleh pergerakan motorik yang ekspresif dan cepat.
“Aktivitas fisik yang melibatkan gerakan cepat, keseimbangan tubuh, kontak antar pemain, maupun penggunaan alat olahraga tradisional berpotensi menimbulkan cedera apabila tidak diawasi dengan baik,” ujar Andry Ariyanto di hadapan 54 peserta pelatihan yang menyimak materi dengan tekun.
Dalam simulasi pertandingan seperti egrang, terompah panjang atau bakiak, gobak sodor atau hadang, hingga tarik tambang, posisi wasit selalu berada paling dekat dengan para atlet. Posisi strategis ini menempatkan wasit sebagai orang pertama yang wajib merespons dengan cepat jika terjadi insiden jatuh, terkilir, atau benturan keras antar-pemain di dalam arena.
Andry Ariyanto menerangkan bahwa pemahaman medis ini akan membantu wasit mengenali tanda-tanda awal trauma fisik yang dialami atlet. Dengan insting dan pengetahuan yang tajam, wasit dapat mengambil keputusan cepat untuk menghentikan peluit pertandingan sementara waktu, memberikan ruang bagi tim medis untuk masuk ke lapangan, sekaligus mencegah kondisi cedera atlet menjadi lebih parah akibat dipaksakan bertanding.
Meskipun wasit bukan bertugas sebagai dokter atau perawat resmi, kemampuan untuk melakukan penilaian awal terkait tingkat keparahan cedera ringan, sedang, maupun kondisi darurat sangat penting dalam menentukan evakuasi yang tepat. Pengetahuan ini juga mendorong wasit untuk lebih tegas dalam memeriksa kelaikan area perlombaan dan spesifikasi alat yang digunakan sebelum kompetisi dimulai.
“Keberadaan wasit yang memiliki kompetensi dalam manajemen cedera turut meningkatkan kualitas penyelenggaraan pertandingan. Keputusan yang cepat dan tepat saat terjadi insiden dapat meminimalkan dampak cedera, menjaga kelancaran pertandingan, serta memberikan rasa aman bagi atlet, panitia, dan penonton,” tandas Andry Ariyanto di akhir sesi presentasinya.
Melalui integrasi materi kesehatan ke dalam kurikulum perwasitan ini, KPOTI Sleman berharap dapat melahirkan lulusan penguji pertandingan yang serbabisa dan berintegritas tinggi. Penguasaan manajemen cedera ini diharapkan mampu memberikan jaminan rasa aman yang paripurna bagi seluruh pihak, sehingga olahraga tradisional di Kabupaten Sleman dapat terus bertransformasi menjadi industri olahraga yang profesional tanpa kehilangan jati dirinya sebagai warisan budaya takbenda yang adiluhung. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)