Role Play Ketugasan Tingkatkan Kompetensi Wasit Olahraga Tradisional di Sleman
- Jun 14, 2026
- Adnan Nurtjahjo
- Olahraga
Sleman — Pelaksanaan role play atau simulasi ketugasan menjadi materi penting dalam Pelatihan Wasit Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Batch III yang digelar Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) Kabupaten Sleman di Lapangan Youth Center Sleman, Minggu (14/6/2026). Melalui kegiatan tersebut, para calon wasit mendapatkan pengalaman praktik langsung menjalankan berbagai peran perangkat pertandingan, mulai dari wasit keberangkatan, wasit balikan, hakim garis (linesman), pencatat nilai (scorer), hingga wasit VAR (Video Assistant Referee), guna meningkatkan kompetensi dan kesiapan mereka dalam memimpin pertandingan olahraga tradisional secara profesional.
Melalui simulasi lapangan yang dipandu oleh Wijang Wahyu Wiwoho selaku instruktur, calon wasit secara bergantian diberikan kesempatan untuk mempraktikkan ketugasan wasit dalam cabang olahraga (Cabor) tradisional Gobak Sodor (Hadang), Terompah Panjang (Bakiak), dan Egrang. Mereka dituntut memahami fungsi, tanggung jawab, serta koordinasi antar perangkat pertandingan guna memastikan jalannya kompetisi berlangsung tertib dan sesuai peraturan.
Dalam pelaksanaannya, wasit keberangkatan pada cabor tradisional Hadang memiliki peran strategis untuk memastikan seluruh peserta siap bertanding sesuai ketentuan yang berlaku. Ketepatan dalam memberikan aba-aba start menjadi faktor penting karena berkaitan langsung dengan keadilan dan validitas hasil pertandingan.
Sementara itu, wasit balikan bertugas mengawasi pelaksanaan titik putar atau area balik yang kerap menjadi lokasi terjadinya pelanggaran dalam berbagai cabang olahraga tradisional. Ketelitian wasit balikan sangat diperlukan untuk memastikan peserta menjalankan lintasan sesuai aturan yang telah ditetapkan.
Lebih lanjut, Wijang mengingatkan bahwa peran hakim garis atau linesman juga tidak kalah penting. Petugas ini bertanggung jawab mengawasi batas lintasan dan memastikan peserta tidak keluar jalur selama pertandingan berlangsung. “Keputusan hakim garis menjadi salah satu dasar bagi wasit utama dalam menentukan sah atau tidaknya suatu pelaksanaan lomba,” tandasnya.
Selain itu, pencatat nilai (scorer) berfungsi mendokumentasikan seluruh hasil pertandingan secara akurat dan objektif. Ketepatan pencatatan nilai menjadi aspek krusial karena hasil yang dicatat akan menjadi dasar penentuan pemenang sekaligus bahan evaluasi penyelenggaraan pertandingan.
Dalam perkembangan olahraga tradisional yang semakin kompetitif, pemanfaatan teknologi juga mulai diperkenalkan melalui peran wasit VAR (Video Assistant Referee). Melalui simulasi tersebut, peserta dilatih melakukan peninjauan ulang terhadap kejadian-kejadian tertentu menggunakan rekaman video guna membantu pengambilan keputusan yang lebih tepat dan transparan untuk mengantisipasi perselisihan kedua tim yang bertanding.
Wijang menegaskan, role play ketugasan sangat penting karena memberikan pengalaman nyata kepada calon wasit sebelum terjun langsung memimpin pertandingan. Dengan praktik langsung di lapangan, peserta pelatihan dapat memahami dinamika pertandingan sekaligus melatih kemampuan komunikasi, koordinasi, dan pengambilan keputusan secara cepat.
Melalui kegiatan ini, KPOTI Kabupaten Sleman berharap lahir wasit-wasit olahraga tradisional yang profesional, kompeten, dan mampu menjalankan setiap fungsi perangkat pertandingan secara optimal.
“Penguasaan berbagai peran dalam pertandingan diyakini akan meningkatkan kualitas penyelenggaraan olahraga tradisional sekaligus mendukung upaya pelestarian budaya bangsa melalui kompetisi yang adil, aman, dan berintegritas,” pungkas Wijang di akhir simulasi. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)