Atasi Krisis Air Gunungkidul, Kolaborasi Komunitas Kenalkan Teknologi ISLAH dan Elektrolisa Air Hujan

  • May 18, 2026
  • Adnan Nurtjahjo
  • Lingkungan Hidup

Sleman — Wilayah selatan Gunungkidul yang selama puluhan tahun menjadi langganan krisis air bersih saat musim kemarau panjang kini mulai melirik potensi langit sebagai solusi hidrologi jangka panjang. Melalui pemanfaatan inovasi teknologi tepat guna berbasis lingkungan, paradigma masyarakat yang menganggap air hujan sebagai pemicu rematik atau sekadar limpasan yang terbuang percuma mulai diubah menjadi sumber air bersih mandiri yang multifungsi dan siap konsumsi.

Komitmen pemenuhan kedaulatan air ini diwujudkan melalui lokakarya intensif pemanfaatan dan pengelolaan air hujan yang diselenggarakan di Dusun Ngrombo 1, Kalurahan Balong, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, Senin (18/5/2026). Agenda strategis ini lahir dari kolaborasi lintas sektoral antara Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman, Yayasan Bingkai Indonesia, serta Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Panewu Girisubo, Haryanto, jajaran pamong kalurahan, lembaga sosial kemasyarakatan, serta puluhan warga setempat yang antusias mempelajari draf sistem ketahanan air domestik.

Dalam paparannya, pendiri SAH Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih, mengedukasi warga mengenai pentingnya mengubah pola pikir konvensional dalam menampung air. Ia mengenalkan rancang bangun Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan atau yang dikenal dengan istilah ISLAH. Sistem penangkapan air hujan dari atap rumah ini dirancang sedemikian rupa dengan bak kontrol penyaringan khusus, sehingga kualitas air yang disimpan di dalam tandon bawah tanah tetap terjaga kejernihannya, bebas jentik nyamuk, dan terhindar dari pertumbuhan lumut dalam waktu lama.

“Teknologi ISLAH menjadi solusi alternatif konkret dalam menghadapi keterbatasan pasokan air bersih, khususnya di kawasan selatan Gunungkidul yang memiliki karakteristik geografis karst dan kerap mengalami kesulitan air ekstrem saat kemarau tiba. Dengan memaksimalkan pemanfaatan curah hujan yang tersedia selama musim penghujan, masyarakat diharapkan mampu memiliki cadangan air mandiri yang aman, murah, dan berkelanjutan tanpa harus terus-menerus bergantung pada bantuan dropping air tangki swasta,” kata Sri Wahyuningsih di hadapan peserta lokakarya.

Tidak berhenti pada metode penampungan standar, warga Dusun Ngrombo 1 juga dibekali dengan kecakapan operasional teknologi elektrolisa untuk meningkatkan nilai guna air hujan. Proses elektrolisa ini bekerja dengan mengalirkan arus listrik searah bertegangan rendah ke dalam sel kompartemen air hujan guna memecah partikel air menjadi dua jenis struktur kimiawi yang berbeda, yakni air bersifat asam dan air bersifat basa.

“Melalui pemisahan ion ini, air hujan yang telah dielektrolisa akan menghasilkan air bersifat basa dengan tingkat keasaman berkisar antara pH 7 hingga 8 yang sangat optimal dan menyehatkan jika dikonsumsi sebagai air minum harian keluarga. Sementara itu, sisa proses yang menghasilkan air bersifat asam dengan kandungan oksigen tinggi jangan dibuang, karena dapat dimanfaatkan secara medis sebagai cairan pembersih luka dari bakteri, obat kumur untuk meredakan sakit gigi, hingga mempercepat penyembuhan sariawan,” ujar Sri Wahyuningsih menambahkan detail teknisnya.

Aplikasi inovasi teknologi ramah lingkungan ini disambut dengan antusiasme tinggi oleh jajaran pemerintah kalurahan setempat. Lurah Balong, Sumarjo, menegaskan bahwa draf penerapan teknologi ISLAH dan elektrolisa ini akan segera dikaji untuk diintegrasikan ke dalam program pembangunan fasilitas publik kalurahan, agar kemandirian air di tingkat padukuhan dapat segera terwujud secara merata.

“Kami bersama warga Dusun Ngrombo 1 menyambut positif lokakarya ini karena membuka cakrawala baru bahwa air hujan memiliki potensi ekonomi dan kesehatan yang sangat besar jika dikelola secara ilmiah. Kami berharap teknologi ISLAH dan mesin elektrolisa ini bisa segera diterapkan dalam skala yang lebih luas di rumah-rumah warga, guna menyokong ketahanan pangan dan air di wilayah Gunungkidul dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global,” tutur Sumarjo. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)