Bangun Lingkungan Tanggap Darurat, Komunitas Seroja Banyuraden Gelar Pelatihan Bantuan Hidup Dasar
- May 17, 2026
- Adnan Nurtjahjo
- Kesehatan
Sleman — Kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat medis kini tidak lagi menjadi domain eksklusif tenaga kesehatan, melainkan mulai merambah sebagai kompetensi wajib bagi masyarakat awam. Kesadaran humanis ini mendorong Komunitas Sehat Rohani Jasmani (Seroja) Dusun Cokrowijayan, Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, untuk menggelar kajian dan pelatihan teknik Bantuan Hidup Dasar (BHD). Agenda edukasi keselamatan ini dipusatkan di Pendhapa Kekandhangan Banyuraden, Minggu (17/5/2026).
Langkah edukasi kemanusiaan ini sengaja dibidik sebagai respons atas masih tingginya angka fatalitas akibat keterlambatan penanganan awal pada kasus kegawatdaruratan di tingkat rumah tangga maupun ruang publik. Melalui pembekalan praktis ini, warga diperkenalkan pada sistem rantai penyelamatan hidup (chain of survival) untuk menghadapi berbagai skenario kritis, seperti korban pingsan mendadak, tersedak, tenggelam, hingga kasus serangan jantung koroner dan kecelakaan lalu lintas.
Narasumber utama dari Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (UII), Shafarina Maulia Prasudia, menegaskan bahwa detik-detik awal setelah korban kehilangan kesadaran merupakan masa keemasan (golden period) yang menentukan hidup dan matinya seseorang. Ketiadaan pasokan oksigen ke otak selama lebih dari beberapa menit dapat mengakibatkan kerusakan organ permanen yang fatal apabila warga di sekitar lokasi kejadian hanya menonton tanpa melakukan tindakan kompresi dada yang benar.
“Bantuan hidup dasar merupakan keterampilan penting yang perlu dimiliki masyarakat umum. Kami ingin masyarakat memiliki pengetahuan agar mampu menyelamatkan korban dalam situasi kegawatdaruratan seperti kecelakaan, maupun kondisi tidak sadar. Dengan pemahaman yang benar, warga diharapkan tidak panik dan mampu memberikan tindakan cepat yang aman serta sesuai prosedur dasar keselamatan. Kemampuan memberikan pertolongan pertama tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga medis, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat luas karena petaka bisa terjadi kapan saja dan di mana saja,” ujar Shafarina Maulia Prasudia saat memaparkan materi.
Suasana kajian berlangsung interaktif saat memasuki sesi simulasi mekanis. Menggunakan alat peraga khusus, para anggota Komunitas Seroja diajarkan tahapan sistematis dalam memberikan pertolongan. Mulai dari memastikan keamanan lingkungan sekitar terlebih dahulu (aman diri, aman lingkungan, aman pasien), mengecek tingkat respons kesadaran korban melalui metode tepuk pundak, mengaktifkan panggilan darurat medis, hingga melakukan teknik resusitasi jantung paru (RJP) dengan kedalaman dan ritme yang presisi.
Pelatihan berkala di tingkat padukuhan ini dinilai menjadi bentuk investasi sosial yang sangat berharga untuk menumbuhkan solidaritas serta kepekaan antar-tetangga. Di tengah padatnya aktivitas masyarakat urban, memiliki kelompok warga yang sigap dan berani mengeksekusi tindakan penyelamatan pertama tanpa ragu menjadi benteng pertahanan lini terdepan sebelum ambulans atau tim paramedis tiba di lokasi kejadian.
Pengurus Komunitas Seroja Banyuraden berharap gerakan literasi kesehatan ini dapat direplikasi secara masif di dusun-dusun lain dengan melibatkan cakupan peserta yang jauh lebih luas, termasuk menyasar kelompok pemuda karang taruna dan pengurus RT. Membekali masyarakat dengan keterampilan klinis dasar ini dipercaya ampuh menekan angka kematian mendadak sekaligus membangun ekosistem lingkungan desa yang aman, peduli, dan responsif terhadap keselamatan jiwa sesama manusia. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)