Banser Gamping Teguhkan Jiwa Korsa, Solidaritas Antaranggota Hingga Akhir Pengabdian

  • Mar 12, 2026
  • Adnan Nurtjahjo
  • Kemanusiaan

Sleman — Rasa duka menyelimuti keluarga besar Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Satuan Koordinasi Rayon (Satkoryon) Gamping atas wafatnya salah satu anggota Banser yang selama ini dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kemasyarakatan. Kepergian almarhum Septa Dwi Ariyanta tidak hanya meninggalkan kesedihan bagi keluarga, tetapi juga bagi rekan-rekan Banser yang selama ini bersama-sama menjalankan tugas pengabdian kepada masyarakat.

Solidaritas dan jiwa korsa yang kuat pun kembali ditunjukkan oleh para anggota Banser. Sejak kabar duka diterima, para anggota Banser dari berbagai wilayah di Kapanewon Gamping dan sekitarnya langsung bergerak untuk memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum sekaligus memberikan dukungan moril kepada keluarga yang ditinggalkan.

Kehadiran Kepala Satkoryon Banser Gamping, Munif Hasyim dan jajarannya di rumah duka Papringan, Trihanggo, Gamping, Sleman, Kamis (12/3/2026) menjadi bukti nyata bahwa kebersamaan yang terbangun dalam organisasi tidak berhenti pada saat menjalankan tugas semata. Lebih dari itu, Banser memandang setiap anggotanya sebagai bagian dari keluarga besar yang harus saling menguatkan dalam berbagai situasi, termasuk ketika menghadapi duka.

“Jiwa korsa merupakan nilai dasar yang selalu ditanamkan kepada setiap anggota Banser. Nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun kebersamaan, kedisiplinan, serta loyalitas dalam menjalankan pengabdian kepada bangsa, negara, dan masyarakat,” tandasnya.

Menurut Munif, solidaritas terhadap anggota yang wafat merupakan bentuk penghormatan terakhir sekaligus wujud kepedulian organisasi kepada setiap kadernya. Banser tidak hanya hadir dalam kegiatan pengamanan, sosial kemasyarakatan, maupun keagamaan, tetapi juga hadir ketika salah satu anggota menghadapi musibah.

Selain melakukan penghormatan kepada almarhum Septa Dwi Ariyanta, para anggota Banser juga turut membantu prosesi pemakaman. Mereka bergotong royong memastikan seluruh rangkaian proses berjalan dengan tertib dan khidmat, sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian almarhum selama menjadi bagian dari Banser.

Dukungan serupa disampaikan Ketua Gerakan Pemuda Ansor Kapanewon Gamping, Muhammad Firdaus yang hadir bersama kader Ansor lainnya. Menurutnya kegiatan tersebut memperlihatkan Banser bukan sekadar organisasi kepemudaan, melainkan wadah pengabdian yang dibangun atas dasar nilai kebersamaan, kepedulian, dan semangat persaudaraan yang kuat. “Jiwa korsa yang tertanam dalam setiap anggota menjadi perekat yang menjaga soliditas organisasi,” ujarnya.

Firdaus juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh anggota Banser dan kader Ansor yang hadir memberikan penghormatan terakhir. Kehadiran mereka menjadi bukti kuatnya jiwa korsa dan solidaritas yang selama ini menjadi nilai utama dalam keluarga besar Ansor dan Banser.

Momentum duka ini pun menjadi pengingat bagi seluruh anggota Banser untuk terus memperkuat solidaritas dan kebersamaan dalam menjalankan tugas kemanusiaan dan sosial kemasyarakatan. Nilai-nilai tersebut menjadi warisan penting yang terus dijaga dalam perjalanan organisasi. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)