Belik Wirangi Banyuraden Simbol Harmoni Alam dan Masyarakat
- Sep 02, 2025
- Adnan Nurtjahjo
- Komunitas , Seni Budaya
Sleman – Sejak dahulu, Belik Wirangi menjadi sumber air utama bagi kebutuhan rumah tangga, mengairi sawah, bahkan menopang kolam ikan milik warga di wilayah sekitarnya. Air yang jernih dan mengalir dari sini juga dipercaya memiliki kekuatan alami menjaga keseimbangan ekosistem.
Belasan relawan bersama anak-anak santri Taman Pendidikan Al-qur’an di Padukuhan Sukunan, Kalurahan Banyuraden, Kabupaten Sleman melakukan bakti sosial demi melestarikan keberadaan Belik Wirangi yang dulu pernah dijadikan tempat lelaku spiritual Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Gerakan pelestarian sumber air yang digagas Komunitas Kekandhangan Banyuraden, Selasa (2/9/2025) menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Selain membersihkan dari sampah, relawan juga menata jalur air agar alirannya lebih lancar, serta membuat papan peringatan untuk menjaga kebersihan di area belik.
Sekretaris Komunitas Kekandhangan, Adnan Iman Nurtjahjo memandang keberadaan Belik Wirangi harus dipandang sebagai aset bersama yang nilainya tak ternilai. Langkah-langkah sederhana yang dilakukan pihaknya mencerminkan kearifan lokal yang berpadu dengan kesadaran ekologis.
Menurutnya, melestarikan sumber air bukan hanya tugas komunitas saja, melainkan kewajiban seluruh warga masyarakat. Karena, ketika belik tetap hidup, maka kehidupan warga Banyuraden pun akan terus berkelanjutan yakni sehat, sejahtera, dan selaras dengan alam.
Di sela kegiatan, anak-anak terlihat ceria ikut serta memungut sampah di tepi belik sambil bergantian bermain perahu Landing Craft Aluminium di perairan belik. Kehadiran anak-anak bukan sekadar membantu, melainkan simbol regenerasi. Orang tua mengajarkan dengan teladan bahwa air bukan hanya untuk hari ini, melainkan untuk masa depan.
“Harapannya, sikap cinta lingkungan dapat tumbuh sejak dini dalam diri generasi muda Banyuraden,” imbuh Adnan.
Selain fungsi ekologis, Belik Wirangi juga menyimpan nilai budaya dan spiritual. Di masa lalu, tempat ini sering menjadi bagian dari tradisi warga, baik dalam doa bersama maupun sebagai ruang pertemuan sosial. Dengan merawat belik, masyarakat Banyuraden sesungguhnya sedang menjaga warisan leluhur yang sarat makna dan memperkuat jati diri komunitas.
Sementara itu, Aryo Tejo selaku Koordinator Mitigasi Satwa menyebutkan ada 27 belik di Banyuraden tetapi saat ini hanya tersisa 5 belik saja yakni Belik Wirangi, Belik Kinclong, Belik Sanggrahan, Belik Dowangan, dan Belik Kaliabu. “Tantangan modern, seperti alih fungsi lahan, pencemaran, dan perubahan iklim, membuat pelestarian belik semakin mendesak,” ungkapnya.
Tanpa kesadaran dan kepedulian bersama, sumber air bisa terancam hilang. Karena itu, langkah kolektif melalui kerja bakti, penanaman pohon, dan edukasi lingkungan menjadi kunci untuk memastikan belik tetap terjaga.
Pelestarian alam tak harus menunggu program besar dari pemerintah atau pihak luar. Namun, gerakan lokal yang lahir dari kepedulian warga justru sering kali lebih efektif karena berangkat dari kebutuhan dan kepentingan bersama. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)