Bentuk Karakter Ekologis, Lurah Sardonoharjo Sleman Dorong Pendidikan Seni Berbasis Lingkungan
- Jun 28, 2026
- Adnan Nurtjahjo
- Budaya
Sleman — Pendekatan pendidikan seni budaya yang dipadukan dengan kepedulian terhadap lingkungan dinilai menjadi instrumen krusial dalam membentuk karakter generasi muda. Sinergi ini diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya kreatif dan berbudaya, tetapi juga memiliki kesadaran ekologis yang tinggi di tengah tantangan zaman modern.
Hal tersebut ditegaskan oleh Lurah Sardonoharjo, Harjuno Wiwoho, saat membuka agenda Uji Kompetensi Anak Didik Sanggar Banyu Bening. Acara evaluasi tersebut diselenggarakan secara meriah di Atrium Shinta Sleman City Hall, Kabupaten Sleman, Minggu (28/6/2026).
Harjuno Wiwoho menyatakan bahwa esensi dari pendidikan seni sejati tidak boleh hanya berfokus pada pelatihan kecakapan teknis semata, seperti terampil menari atau memainkan alat musik. Jauh di luar itu, seni harus mampu bertransformasi menjadi media pembelajaran karakter dan penanaman nilai-nilai kehidupan bagi anak-anak sejak usia dini.
“Ketika pembelajaran seni dipadukan dengan edukasi lingkungan, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih peka terhadap budaya, alam, dan kehidupan sosial di sekitarnya. Seni budaya merupakan identitas bangsa, sedangkan kepedulian lingkungan adalah kebutuhan mutlak di tengah isu perubahan iklim saat ini,” ujar Harjuno Wiwoho saat memberikan sambutan.
Secara khusus, Harjuno memberikan apresiasi tinggi kepada manajemen Sanggar Banyu Bening Sleman yang dinilai konsisten mengawinkan kurikulum tari tradisional dengan muatan kelestarian alam. Melalui metode interaktif ini, para siswa sanggar diajak secara langsung untuk memahami pentingnya menjaga kebersihan, menghormati alam, serta merawat harmoni antara manusia dan ekosistem.
“Proses pembelajaran seperti ini akan memberikan dampak jangka panjang terhadap pembentukan karakter peserta didik. Melalui aktivitas seni, anak-anak belajar mengenai disiplin, kerja sama, tanggung jawab, rasa percaya diri, hingga kemampuan menghargai perbedaan. Ketika nilai-nilai tersebut diperkuat dengan kepedulian terhadap lingkungan, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang lebih adaptif,” kata Harjuno menambahkan.
Terkait pelaksanaan uji kompetensi di dalam pusat perbelanjaan moderen, Harjuno menilai langkah tersebut sangat strategis untuk menguji mentalitas anak. Beraksi di hadapan publik luas secara langsung diyakini mampu mendongkrak rasa percaya diri serta memotivasi anak untuk terus mengoptimalkan bakat seni yang mereka miliki.
Di akhir arahannya, Harjuno berpesan kepada para orang tua agar terus memberikan dukungan penuh serta ruang berekspresi bagi anak-anak dalam menekuni dunia seni tradisional. Sinergi dan kolaborasi yang kokoh antara lingkungan keluarga, sanggar tari, pemerintah kalurahan, dan masyarakat luas diyakini akan menjadi fondasi utama dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat, kreatif, dan berkelanjutan. (Adnan Nurtjahjo / KIM Pararta Guna Gamping)