Pitulungan Hanggarbini Kreasi, Wadah Pembuktian Kompetensi Anak Didik Sanggar Banyu Bening Sleman
- Jun 28, 2026
- Adnan Nurtjahjo
- Budaya
Sleman — Uji kompetensi melalui pementasan menjadi sarana efektif untuk mengukur kemampuan sekaligus membangun kepercayaan diri anak didik dalam dunia seni pertunjukan. Komitmen tersebut diwujudkan Sanggar Banyu Bening Sleman melalui pementasan bertema “Pitulungan Hanggarbini Kreasi” yang digelar di Atrium Shinta Sleman City Hall, Minggu (28/6/2026), sebagai ruang bagi para peserta untuk menampilkan hasil pembelajaran di hadapan masyarakat dan keluarga.
Menurut Ketua Sanggar Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih, pementasan tersebut tidak sekadar menjadi ajang hiburan, melainkan merupakan bentuk evaluasi kompetensi yang dirancang secara komprehensif. Setiap penampilan menjadi indikator kemampuan peserta dalam menguasai teknik, penghayatan, ekspresi, disiplin, hingga kemampuan bekerja sama dalam sebuah pertunjukan.
“Proses penilaian tidak hanya berorientasi pada hasil akhir, namun juga pada kesiapan mental dan profesionalisme anak didik ketika tampil di hadapan publik,” tandasnya.
Menurut Wahyuningsih, pengalaman tampil di atas panggung merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan seni. Setelah mengikuti pembelajaran secara rutin, anak didik perlu memperoleh kesempatan untuk menguji kemampuan mereka dalam situasi nyata. Melalui pementasan ini, peserta belajar menghadapi tekanan, mengelola rasa percaya diri, sekaligus menunjukkan kualitas karya yang telah dipersiapkan selama proses latihan.
Pementasan yang mengusung tema “Pitulungan Hanggarbini Kreasi” mengandung pesan tentang pentingnya semangat saling menolong, kebersamaan, dan kreativitas sebagai nilai yang harus ditanamkan kepada generasi muda. Nilai-nilai tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk pertunjukan yang memadukan unsur seni, budaya, dan pendidikan karakter sehingga mampu menghadirkan sajian yang edukatif sekaligus menghibur.
Sementara itu, Elisabeth Panti selaku Koordinator Pementasan mengatakan bahwa uji kompetensi melalui pementasan memiliki keunggulan dibandingkan evaluasi konvensional karena mampu mengukur kemampuan peserta secara lebih utuh. Aspek teknis, artistik, komunikasi, penguasaan panggung, hingga kemampuan beradaptasi terhadap dinamika pertunjukan dapat diamati secara langsung.
“Pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi anak didik untuk terus berkembang dalam dunia seni pertunjukan,” ujarnya antusias.
Berdasarkan hasil uji kompetensi yang dilaksanakan melalui pementasan “Pitulungan Hanggarbini Kreasi”, Sanggar Banyu Bening Sleman menetapkan penari terbaik dari masing-masing kelompok sebagai bentuk apresiasi atas pencapaian kompetensi, penguasaan teknik, ekspresi, kedisiplinan, dan kualitas penampilan selama proses evaluasi berlangsung. Penetapan tersebut diharapkan dapat menjadi motivasi bagi seluruh anak didik untuk terus mengembangkan kemampuan seni tari melalui latihan yang konsisten dan berkelanjutan.
Adapun penari terbaik pada masing-masing kelompok meliputi Alesha Adhiba Naufalyn dari Kelompok Abimanyu 1, Diandra Yudha Prasetya dari Kelompok Abimanyu 2, Bella Ayuan Dhista dari Kelompok Utari, Nayla Anggun Putri Pruwantoro dari Kelompok Baladewa, serta Cita Putri Aabidah dari Kelompok Srikandi. Penghargaan tersebut menjadi bentuk pengakuan atas dedikasi dan perkembangan kompetensi para peserta, sekaligus diharapkan mampu mendorong lahirnya generasi penari muda yang berprestasi, berkarakter, dan siap melestarikan seni budaya Indonesia.
Selain menjadi sarana evaluasi, kegiatan ini juga mempererat hubungan antara sanggar, orang tua, dan masyarakat. Kehadiran para orang tua memberikan dukungan moral yang besar bagi anak-anak, sementara masyarakat memperoleh kesempatan menyaksikan secara langsung hasil pembinaan yang dilakukan oleh sanggar. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam menciptakan ekosistem pendidikan seni yang sehat dan berkelanjutan.
Pementasan “Pitulungan Hanggarbini Kreasi” diharapkan menjadi motivasi bagi seluruh anak didik untuk terus meningkatkan kompetensi dan mengembangkan potensi yang dimiliki. Lebih dari sekadar ujian akhir pembelajaran, kegiatan ini menjadi momentum pembuktian bahwa proses pendidikan seni yang terarah mampu melahirkan generasi muda yang berprestasi, berkarakter, serta siap berkarya di tengah masyarakat dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai budaya lokal. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)