Dakwah Kesehatan Seroja Banyuraden: Mengurangi Nyeri Tanpa Risiko
- Nov 02, 2025
- Adnan Nurtjahjo
- Komunitas , Kesehatan
Sleman - Nyeri sering kali menjadi sinyal alami tubuh bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Namun, tak sedikit orang yang menyepelekannya atau justru salah dalam menanganinya. Dalam kegiatan kajian kesehatan yang berlangsung di Pendhapa Kekandhangan Banyuraden, Sleman, Minggu (2/11/2025), Dosen Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Apoteker Sri Tasminatun selaku narasumber menegaskan pentingnya ikhtiar mengurangi nyeri dengan penggunaan obat anti-nyeri yang tepat dan bijak.
Menurut Tasminatun, rasa nyeri tidak hanya memengaruhi kondisi fisik, namun juga psikologis seseorang. Ia menjelaskan bahwa nyeri merupakan mekanisme pertahanan tubuh yang kompleks, apabila tidak dikelola dengan baik dapat menurunkan kualitas hidup.
“Mengurangi nyeri bukan berarti meniadakan rasa sakit secara total, tetapi mengupayakan agar penderita tetap dapat beraktivitas secara normal dan nyaman,” ujarnya di hadapan anggota Komunitas Sehat Rohani Jasmani (Seroja) Banyuraden.
Dalam kesempatan tersebut, Tasminatun menjelaskan berbagai jenis obat anti-nyeri (analgesik), mulai dari golongan parasetamol, ibuprofen, hingga asam mefenamat. Dirinya menekankan bahwa setiap jenis obat memiliki cara kerja dan efek samping yang berbeda. Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak sembarangan mengonsumsi obat tanpa konsultasi dengan dokter.
“Kesalahan umum yang sering terjadi adalah penggunaan obat pereda nyeri dalam dosis berlebihan atau dalam jangka panjang tanpa pengawasan,” tambahnya.
Apoteker UMY tersebut mengingatkan bahwa nyeri tidak selalu harus ditangani dengan obat. Dalam banyak kasus, terapi nonfarmakologis seperti istirahat cukup, kompres hangat, olahraga ringan, dan teknik relaksasi dapat membantu meredakan nyeri. Pendekatan ini penting agar masyarakat memahami bahwa pengobatan sebaiknya bersifat menyeluruh, mencakup aspek fisik, mental, dan spiritual.
Selain memberi penjelasan ilmiah, Tasminatun juga memaparkan contoh nyata dari pasien yang berhasil mengelola nyeri kronis dengan kombinasi terapi medis dan perubahan gaya hidup. Ia menekankan bahwa setiap individu perlu mengenali batas toleransi tubuhnya terhadap rasa sakit.
“Yang paling penting adalah mengenali penyebab nyeri, bukan sekadar menutupi gejalanya dengan obat,” tuturnya.
Peserta yang hadir terlihat antusias mengikuti sesi diskusi interaktif. Mereka diberikan kesempatan untuk bertanya seputar penggunaan obat pereda nyeri, termasuk efek samping jika dikonsumsi jangka panjang. Beberapa peserta bahkan mengaku sering membeli obat tanpa resep dokter, dan baru memahami risikonya setelah mengikuti kegiatan edukatif tersebut.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Komunitas Seroja Banyuraden pimpinan dr. H. Bambang Edy Susyanto, Sp.A. ini berupaya meningkatkan literasi kesehatan masyarakat yang dilakukan setiap minggunya. Harapannya, masyarakat menjadi lebih cerdas dalam menyikapi keluhan nyeri, terutama dengan mengedepankan prinsip penggunaan obat yang rasional agar tidak tergantung pada obat.
Dengan pemahaman yang benar, masyarakat dapat mengambil keputusan yang tepat dalam mengelola rasa sakit tanpa menimbulkan risiko baru. Sebab, obat hanyalah sarana sedangkan ikhtiar dan kesadaran diri merupakan kunci utama menuju sehat yang sesungguhnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)