DPK Sleman Latih Pelaku UMKM Bikin Takoyaki dan Milles Crepes
- Nov 11, 2025
- Adnan Nurtjahjo
- UMKM, Kuliner
Sleman - Suasana Selasa pagi (11/11/2025) di Omah Kopi Cokrowijayan, Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, tampak lebih hidup dari biasanya. Puluhan warga, khususnya pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan ibu rumah tangga, tampak antusias mengikuti kegiatan bertajuk Pagu Usulan Partisipatif Masyarakat (PUPM) yang digelar oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Kabupaten Sleman.
Kegiatan ini tidak hanya sekadar pelatihan, tetapi menjadi ruang belajar bersama untuk menumbuhkan kreativitas dan jiwa kewirausahaan di tengah masyarakat Banyuraden. Di balik aktivitas dapur itu, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman tengah menggelar sebuah program pemberdayaan yang menumbuhkan kreativitas dan jiwa kewirausahaan warga melalui pelatihan pembuatan makanan kekinian yakni Takoyaki dan Milles Crepes.
Dalam sambutan pembukanya, Shavitri Nurmala Dewi selaku Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman menuturkan bahwa forum ini merupakan wujud nyata dari komitmen pemerintah daerah untuk terus menghadirkan program pemberdayaan masyarakat yang kreatif, inovatif, dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan warga.
Melalui acara ini, Shavitri menegaskan bahwa literasi dapat berkembang menjadi literasi produktif yakni kemampuan mengubah pengetahuan menjadi karya dan penghasilan. Membuat takoyaki dan milles crepes bukan hanya tentang memasak saja, melainkan juga mengenai memahami peluang, membaca tren pasar, dan membangun jiwa kewirausahaan yang adaptif terhadap perubahan zaman.
“Perpustakaan saat ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat membaca buku, melainkan sebagai pusat pembelajaran sepanjang hayat dan ruang tumbuhnya kreativitas,” tandasnya.
Lebih lanjut, Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman, Christina Rini Puspitasari menggarisbawahi, workshop ini menjadi sangat penting karena dunia kuliner kini telah menjadi salah satu sektor unggulan dalam ekonomi kreatif.
Menurutnya, produk makanan kekinian seperti takoyaki dan milles crepes memiliki potensi besar untuk menarik konsumen, terutama generasi muda. Rini berharap para peserta workshop dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar, berinovasi, dan menciptakan produk yang memiliki nilai jual tinggi tanpa meninggalkan cita rasa lokal.
“Dengan semangat gotong royong dan saling berbagi pengalaman, kita dapat bersama-sama menguatkan ekonomi masyarakat Banyuraden,” ujarnya.
Sementara itu, pada sesi praktik pembuatan makanan kekinian berupa takoyaki dan milles crepes yang dipandu oleh Regina Elia Linawati selaku mentor menjadi bagian paling dinantikan. Regina, yang dikenal sebagai pelaku usaha kuliner kreatif Ciciz Chiken di Sleman, tidak hanya mengajarkan cara memasak, namun juga menanamkan nilai-nilai ketekunan, kreativitas, dan inovasi dalam setiap prosesnya.
Dalam kesempatan tersebut, Regina memperlihatkan tahapan demi tahapan pembuatan takoyaki yang renyah di luar namun lembut di dalam, lengkap dengan isian gurita dan saus khas Jepang. Ia pun memperagakan cara membuat milles crepes dengan lapisan kulit tipis yang disusun rapi hingga menghasilkan tekstur lembut dan tampilan menarik. Melalui pendekatan ini, peserta tidak hanya belajar resep, tetapi juga memahami pentingnya ketelitian dan konsistensi dalam menjaga kualitas produk.
“Inovasi tidak harus selalu mahal. Bahan sederhana pun bisa menjadi produk bernilai tinggi bila dikemas dengan ide menarik. Yang paling penting adalah keberanian mencoba dan tidak takut gagal. Dari dapur sederhana pun, usaha besar bisa lahir,” ujarnya menyemangati para peserta yang terlihat antusias. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)