Drama Samaring Katresnan Warnai Gelar Potensi Kalurahan Budaya 2024
- Aug 23, 2024
- Aryo Tejo
- Seni Budaya
Dalam rangka menyambut 12 tahun Undang-Undang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta serta memperkenalkan keragaman budaya serta potensi lokal yang dimiliki maka Kundha Kabudayan Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan Gelar Potensi Kalurahan Budaya se-Kabupaten Sleman Tahun 2024 menggunakan dana keistimewaan yang berlangsung di Lapangan Wunguadi, Padukuhan Mejing Kidul, Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Jumat (23/8/2024).
Kegiatan sebagai wadah untuk menampilkan warisan budaya dari berbagai kalurahan dan paguyuban seni tersebut seiring dengan visi pemerintah Kabupaten Sleman yaitu menjadi destinasi budaya yang menarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Pembukaan acara secara resmi dilakukan oleh Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Dian Lakshmi Pratiwi disaksikan Panewu Gamping, Tamzis Sarwana, Wakil Komandan Koramil 17/Gamping, Kapten Infanteri Wahyani, Kepala Kepolisian Sektor Gamping, AKP Sandro Dwi Rahardian, serta Lurah Ambarketawang, Sumaryanto.
Peserta kegiatan berasal dari Kabupaten Bantul sebanyak 24 kalurahan budaya, Kabupaten Gunung Kidul sebanyak 24 kalurahan budaya, Kabupaten Sleman sebanyak 24 kalurahan budaya, Kabupaten Kulon Progo sebanyak 21 kalurahan budaya, serta Kota Yogyakarta sebanyak 7 kalurahan yang ditetapkan oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Surat Keputusan nomor 454/KEP/2023 berdasarkan penilaian Tim akreditasi kalurahan budaya.
Menurut Eny Lestari Rahayu selaku Ketua Panitia Kegiatan bahwa festival ini merupakan kesempatan langka bagi warga dan wisatawan untuk menyaksikan keragaman budaya dan potensi ekonomi yang ada di wilayah Kabupaten Sleman. Berbagai kegiatan menarik telah disiapkan untuk memeriahkan acara, mulai dari pagelaran seni, pameran Usaha Mikro Kecil dan Menengah, hingga kuliner khas dari 24 kelurahan dan kalurahan budaya yang tersebar di wilayah Kabupaten Sleman.
Salah satu pertunjukan seni disajikan oleh Kalurahan Budaya Margoagung, Kapanewon Seyegan yang menampilkan drama berjudul ‘Samaring Katresnan’ yang menggambarkan ritual upacara adat Mubeng Ringin tidak hanya sekadar ritual keagamaan atau adat, tetapi juga memiliki nilai sosial yang kuat. Karenanya, tradisi tersebut menjadi ajang berkumpul dan mempererat silaturahmi antar warganya. Diharapkan melalui upacara adat ini, nilai-nilai gotong royong, kebersamaan dan kerukunan masyarakat terus dipertahankan sekaligus berfungsi sebagai ajang pendidikan budaya bagi generasi muda dalam menghormati alam dan tradisi leluhur.
Prosesi Mubeng Ringin diawali dengan berkumpulnya warga desa di area yang menjadi pusat kegiatan yakni di sekitar pohon beringin besar yang berada di Kalurahan Margoagung. Pohon beringin ini tidak hanya dipandang sebagai pohon biasa, tetapi juga sebagai lambang kekuatan dan perlindungan. Sebelum prosesi dimulai, dilakukan doa bersama yang dipimpin oleh pemangku adat atau sesepuh desa guna memohon berkah, keselamatan, dan kemakmuran bagi seluruh warga.
Setelah memanjatkan doa bersama, warga mulai melakukan ritual mengelilingi pohon beringin sebanyak tiga kali sambil membawa sesajen sebagai bentuk persembahan kepada leluhur dan alam, termasuk makanan, bunga, atau hasil bumi sebagai simbol syukur atas berkah yang telah diterima diiringi dengan tabuhan gamelan atau musik tradisional yang menambah suasana sakral. Banyak warga yang membawa sesajen sebagai bentuk persembahan kepada leluhur dan alam, termasuk makanan, bunga, atau hasil bumi sebagai simbol syukur atas berkah yang telah diterima. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)