Dusun Sanggrahan Banyuraden Lestarikan Tradisi Wiwitan Jelang Panen Padi
- Aug 26, 2024
- Aryo Tejo
- Kegiatan Wilayah, Seni Budaya
Sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen padi yang melimpah serta melestarikan warisan leluhur secara turun temurun, maka masyarakat Dusun Sanggrahan menyelenggarakan kegiatan tradisi wiwitan menjelang panen padi yang dilaksanakan di salah satu rumah warga Dusun Sanggrahan, Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Senin (26/8/2024).
Hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Lurah Banyuraden, Sudarisman, Ketua Tim Penggerak PKK Banyuraden, Kwintartiningsih Pospoputri, Dukuh, Bintara Pembina Desa, Pengamat Budaya, Ketua Rukun Warga, serta warga masyarakat yang bersama-sama mengikuti prosesi tradisi wiwitan.
Dalam sambutannya, Sudarisman menuturkan bahwa tradisi wiwitan merupakan wujud rasa syukur masyarakat kepada Allah SWT beserta alam semesta karena para petani percaya bahwa keberhasilan panen tidak hanya ditentukan oleh usaha manusia, tetapi juga berkaitan erat dengan berkah dari Sang Pencipta serta dukungan dari alam. Sehingga, ritual adat ini menjadi bentuk doa dan terima kasih atas rezeki yang telah diberikan.
Selain itu, melalui wiwitan masyarakat berdoa memohon berkah kepada Allah SWT agar panen yang akan dilakukan berlangsung dengan lancar dan hasilnya melimpah, serta melindungi hasil panen dari serangan hama, penyakit tanaman, maupun bencana alam yang mungkin terjadi.
“Ritual ini juga mengajarkan masyarakat untuk bersabar dan tidak serakah, karena petani harus menunggu waktu yang tepat untuk memanen padi demi hasil yang maksimal.” terang Sudarisman.
Prosesi diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh pemuka adat yang dimaksudkan untuk memohon keselamatan dan berkah atas panen yang akan dilakukan. Setelah doa dan persembahan dilakukan, pemimpin ritual melakukan pemotongan padi pertama secara simbolis yang menandai dimulainya proses panen.
Setelah prosesi pemotongan padi kemudian diadakan acara syukuran atau kenduri yang melibatkan seluruh masyarakat dengan makan bersama atau kembul bujana sebagai simbol kebersamaan dan ungkapan rasa syukur atas berkah panen yang diterima serta meneguhkan rasa saling memiliki dan gotong royong sebagai nilai utama dalam masyarakat yang diyakini dapat memperkuat ikatan sosial dalam komunitas.
Sementara itu, Heru Jatmiko sebagai warga Sanggrahan mengatakan tradisi wiwitan tidak lepas dari sajian nasi gurih, gudangan, dan ingkung yaitu ayam kampung yang dimasak utuh tanpa dipotong-potong yang melambangkan kepasrahan dan ketulusan hati manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa serta kebulatan tekad dalam memohon perlindungan terkait dengan panen yang akan datang.
“Ingkung ayam juga sebagai simbol kesejahteraan, ketentraman, dan permohonan agar kehidupan masyarakat tetap harmonis dan makmur,” ujarnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)