Edukasi Budaya di Bulan Ramadan, Peserta Didik Sanggar Banyu Bening Belajar Tata Krama dan Sungkeman

  • Feb 26, 2026
  • Adnan Nurtjahjo
  • Seni Budaya

Sleman — Kegiatan Ramadan 1447 Hijriyah di Sanggar Banyu Bening, Sardonoharjo, Sleman, Kamis (26/2/2026), diisi dengan aktivitas edukatif berupa gladhi basa Jawa dan latihan prosesi sungkeman bagi para peserta didik. Program ini dipandu langsung oleh seorang pengajar Bahasa Jawa, Rosalia, sebagai bagian dari pembinaan karakter berbasis budaya lokal.

Dalam paparannya, Rosalia menegaskan bahwa pembelajaran bahasa Jawa memiliki dimensi yang lebih luas dari sekadar aspek linguistik. Ia menyebut, penguasaan tata krama berbahasa merupakan fondasi penting dalam membentuk sikap hormat, terutama kepada orang tua maupun orang yang lebih tua.

Dalam sesi gladhi, anak-anak dikenalkan pada tingkatan bahasa Jawa secara sistematis, mulai dari ngoko hingga krama inggil. Metode pembelajaran dilakukan secara praktik langsung agar anak mampu memahami konteks penggunaan bahasa secara tepat dalam kehidupan sehari-hari.

Rosalia menjelaskan bahwa melalui sungkeman, anak-anak diajak menginternalisasi nilai kerendahan hati, keikhlasan, serta pentingnya memperbaiki hubungan dalam keluarga. “Pendekatan ini efektif untuk menanamkan pendidikan karakter sejak dini,” tandasnya.

Tidak hanya itu, kegiatan juga dirangkaikan dengan latihan prosesi sungkeman yang sarat makna. Tradisi ini diperagakan sebagai simbol penghormatan sekaligus ungkapan permohonan maaf yang tulus kepada orang tua, khususnya dalam momentum Ramadan yang identik dengan refleksi diri.

Anak-anak sanggar terlihat mengikuti kegiatan dengan penuh kesungguhan. Mereka tidak hanya mempraktikkan gerakan sungkeman, tetapi juga melafalkan ungkapan permohonan maaf menggunakan bahasa Jawa krama inggil dengan bimbingan langsung.

Ketua Sanggar Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih yang menuturkan kegiatan ini sangat penting dilakukan di tengah arus modernisasi, di mana penggunaan bahasa daerah mulai berkurang.

“Kami berharap anak-anak tidak hanya mampu berbahasa Jawa, tetapi juga memahami nilai-nilai sopan santun, rasa hormat, dan etika dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya.

Selain itu, Wahyuningsih mengungkapkan bahwa prosesi sungkeman yang dipraktikkan hari ini memiliki makna yang sangat dalam. Menurutnya, sungkeman bukan sekadar tradisi, melainkan wujud nyata dari kerendahan hati, penghormatan kepada orang tua, serta momentum untuk saling memaafkan, terlebih di bulan Ramadan yang penuh ampunan ini.

“Melalui kegiatan ini, anak-anak dapat mengambil pelajaran berharga, tidak hanya untuk dipraktikkan hari ini. Tetapi juga menjadi kebiasaan baik dalam kehidupan ke depan, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat,” ungkapnya.

Antusiasme peserta gladhi menjadi indikator bahwa pendekatan pembelajaran berbasis budaya masih relevan dan diminati. Beberapa anak bahkan mengaku baru pertama kali memahami secara mendalam makna sungkeman yang selama ini hanya mereka saksikan.

Melalui gladhi basa Jawa dan prosesi sungkeman ini, Sanggar Banyu Bening Sleman berkomitmen membentuk anak-anak yang tidak hanya terampil berbahasa, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan budi pekerti yang kuat sebagai bekal di masa depan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)