Empat Pilar Ikhtiar Sehat, Jaga Kualitas Hidup Lansia
- May 03, 2026
- Adnan Nurtjahjo
- Kesehatan
Sleman — Kesehatan lanjut usia (lansia) menjadi perhatian penting di tengah meningkatnya jumlah masyarakat usia lanjut yang membutuhkan perhatian khusus, baik dari sisi kesehatan fisik maupun mental. Hal tersebut disampaikan dr. Muthia Tsabita Rahmi dalam kegiatan edukasi dan sosialisasi kesehatan bersama Komunitas Sehat Rohani Jasmani (Seroja) yang berlangsung di Pendhapa Kekandhangan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Minggu (3/5/2026).
Kegiatan yang diikuti para lansia tersebut berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Program ini hadir sebagai wadah pembinaan kesehatan masyarakat dengan menekankan keseimbangan antara kesehatan jasmani dan rohani guna meningkatkan kualitas hidup masyarakat, khususnya kelompok lansia.
Dalam paparannya, dr. Muthia Tsabita Rahmi menegaskan bahwa lansia merupakan kelompok usia yang rentan mengalami berbagai penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes, gangguan sendi, hingga penyakit jantung. Oleh sebab itu, upaya pencegahan dan deteksi dini harus dilakukan secara rutin melalui pola hidup sehat dan pemeriksaan kesehatan berkala.
Ia menjelaskan empat pilar ikhtiar sehat lansia yaitu menutrisi raga dengan mengatur pola makan, menjaga kekuatan melalui pola gerak, memberi waktu jeda lewat pola tidur, serta merawat kedamaian hati dengan pola pikir.
Menurut dr. Muthia, empat pilar ikhtiar sehat lansia perlu diimplementasikan karena proses penuaan menyebabkan penurunan fungsi tubuh secara alami, baik fisik maupun psikologis. Jika tidak diimbangi dengan pola hidup yang sehat, lansia lebih rentan mengalami penyakit degeneratif, penurunan daya tahan tubuh, gangguan mental, hingga menurunnya kualitas hidup.
“Keempat pilar tersebut saling berkaitan dan menjadi fondasi utama agar lansia tetap sehat, mandiri, serta produktif di usia lanjut,” tandasnya dihadapan peserta kajian.
Menutrisi raga melalui pengaturan pola makan sangat penting karena kebutuhan tubuh lansia berbeda dengan usia produktif. Lansia membutuhkan asupan gizi seimbang yang kaya protein, vitamin, serat, dan mineral untuk menjaga daya tahan tubuh, kesehatan tulang, serta fungsi organ. Pola makan yang tidak teratur atau berlebihan dapat meningkatkan risiko hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, hingga penyakit jantung. Karena itu, pengaturan makanan menjadi langkah utama dalam menjaga kesehatan jangka panjang.
Selain itu, menjaga kekuatan melalui pola gerak diperlukan agar tubuh lansia tetap aktif dan tidak mudah mengalami penurunan fungsi otot maupun sendi. Aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki, senam lansia, atau peregangan mampu membantu melancarkan peredaran darah, menjaga keseimbangan tubuh, mengurangi risiko jatuh, serta menjaga kesehatan jantung.
Yang tak kalah penting yaitu memberi waktu jeda melalui pola tidur yang cukup dan berkualitas berperan besar dalam proses pemulihan tubuh. Lansia yang kurang tidur cenderung lebih mudah lelah, mengalami gangguan konsentrasi, penurunan imunitas, bahkan risiko stres dan depresi.
“Tidur yang baik membantu tubuh memperbaiki sel-sel yang rusak serta menjaga kestabilan emosi dan fungsi otak,” jelas dr. Muthia.
Ia pun menyarankan anggota komunitas Seroja merawat kedamaian hati melalui pola pikir yang sehat seperti pikiran yang positif dan penuh rasa syukur karena sangat memengaruhi kondisi fisik. Lansia yang memiliki kesehatan mental baik umumnya lebih semangat menjalani aktivitas, lebih aktif bersosialisasi, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan adanya sesi tanya jawab. Sejumlah peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berkonsultasi terkait keluhan kesehatan yang mereka alami sehari-hari. Antusiasme peserta menunjukkan tingginya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan di usia lanjut. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)