FEB UGM Dalami Pengelolaan Air Hujan dari SAH Banyu Bening Sleman

  • Jan 22, 2026
  • Adnan Nurtjahjo
  • Lingkungan Hidup

Sleman – Pelatihan pengelolaan dan pemanfaatan air hujan yang diikuti 25 pegawai Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) berlangsung di Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening, Kabupaten Sleman, Kamis (22/1/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia kampus dalam mendukung pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Kepala Kantor Administrasi FEB Universitas Gadjah Mada, Nur Bakti Susilo mengatakan bahwa kegiatan ini diawali pihaknya dengan membuat sumur resapan yang merupakan bagian dari komitmen Fakultas Ekonomika dan Bisnis dalam mendukung upaya pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

Melalui pelatihan ini, Nur Bakti Susilo berharap para pegawai FEB UGM tidak hanya memperoleh pengetahuan teknis mengenai pengelolaan dan pemanfaatan air hujan. Namun juga menumbuhkan kesadaran dan kepedulian terhadap pentingnya perubahan perilaku dalam penggunaan sumber daya air.

“Kampus harus menjadi contoh dalam penerapan praktik-praktik ramah lingkungan yang berkelanjutan,” tandasnya.

Peserta pelatihan memperoleh penjelasan dari pendiri SAH Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih mengenai siklus hidrologi, teknik penangkapan air hujan, sistem penyaringan, hingga penyimpanan air yang memenuhi standar kesehatan. Materi tersebut disampaikan secara aplikatif agar dapat diterapkan di lingkungan kampus maupun rumah tangga masing-masing.

Selain aspek teknis, pelatihan juga mengangkat nilai-nilai edukatif dan perubahan perilaku. Peserta diajak melihat pengelolaan air hujan bukan semata sebagai solusi teknis, tetapi sebagai bagian dari gaya hidup sadar lingkungan yang perlu dikembangkan secara konsisten di lingkungan kerja kampus.

“Dengan meningkatnya pemahaman pegawai terhadap pengelolaan air hujan, diharapkan akan tumbuh kesadaran kolektif untuk mengurangi ketergantungan pada air tanah dan air perpipaan,” ujar Wahyuningsih.

Pengelolaan air hujan perlu dilakukan secara sadar yaitu menampung sesuai kebutuhan, menyaring dengan benar, menggunakan secukupnya, dan mengembalikan sisanya ke dalam tanah. Prinsip ini menjadi dasar pembelajaran bersama sebelum peserta memasuki pemahaman lanjutan mengenai konsep 5M (menampung, mengolah, minum, menabung, mandiri) dalam Sekolah Air Hujan.

Melalui pendekatan teoritis dan praktik langsung, peserta diajak memahami potensi air hujan dalam menjawab tantangan ketersediaan air bersih, khususnya di wilayah perkotaan dan kawasan dengan tekanan sumber daya air tanah.

Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat mendukung perumusan kebijakan internal kampus yang lebih responsif terhadap isu krisis air dan perubahan iklim. Sekaligus menegaskan komitmennya dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui peningkatan kapasitas pegawai. Pengelolaan dan pemanfaatan air hujan diharapkan menjadi praktik nyata yang berkontribusi pada ketahanan air dan kelestarian lingkungan di masa depan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)