Festival Budaya dan UMKM Ambarketawang Perkuat Kohesi Sosial
- Nov 22, 2025
- Adnan Nurtjahjo
- Seni Budaya
Sleman – Pelataran Kalurahan Ambarketawang, Gamping, berubah menjadi ruang perayaan budaya pada Sabtu (22/11/2025), ketika Ambarketawang Kalcer Festival (AKF) resmi membuka rangkaian peringatan Hari Jadi Ambarketawang ke-270. Festival ini merupakan momentum penting bagi warga untuk menegaskan kembali identitas kalurahan yang telah berdiri sejak tiga abad silam. Suasananya hidup oleh pertunjukan kesenian, stan UMKM, dan sentuhan tradisi yang menyatukan seluruh lapisan masyarakat.
Sebagai pembuka peringatan hari jadi, festival ini menghadirkan ruang kolektif bagi warga untuk memahami kembali akar sejarah Ambarketawang, kalurahan yang pernah menjadi pusat penting perjalanan pemerintahan di era Mataram.
Lurah Ambarketawang, Sumaryanto, saat membuka resmi AKF, menekankan kesinambungan sejarah dan perkembangan warganya.
“Melalui festival budaya, Ambarketawang berusaha memastikan bahwa sejarah bukan hanya diperingati, tetapi juga dihidupkan dari generasi ke generasi,” ucap Sumaryanto.
Ia menambahkan, selain sarat nilai historis, AKF menjadi wadah pelestarian kesenian lokal. Berbagai penampilan mulai dari seni tari, karawitan, hingga pentas band anak muda menjadi bukti bahwa tradisi tetap relevan ketika diberi ruang tampil di tengah publik.
Ketua Panitia AKF 2025, Rully Ismada, atau akrab disapa Rere, mengatakan dampak ekonomi acara juga menjadi nilai strategis. Stan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang berjejer di pelataran kalurahan menunjukkan geliat kewirausahaan berbasis lokal.
“Festival menjadi ruang promosi gratis yang efektif bagi pedagang kecil, pengrajin, hingga pelaku kuliner rumahan untuk memperluas jaringan konsumen,” ungkap Rully.
Kegiatan ini juga memperkuat kohesi sosial, di mana warga berkumpul, saling menyapa, dan bergotong-royong menyiapkan acara, penting untuk merawat rasa memiliki di tengah perkembangan wilayah Gamping yang semakin urban dan dinamis. Sementara bagi generasi muda, pelibatan ini mendorong mereka memahami bahwa budaya bukan sekadar warisan, melainkan tanggung jawab yang perlu dijaga serta dikembangkan.
Kehadiran Tim Monitoring dan Evaluasi Desa Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta di Ambarketawang Kalcer menjadi bagian dari program penguatan desa budaya. Kehadiran tim ini memastikan bahwa setiap aktivitas festival mencerminkan nilai-nilai pelestarian budaya yang berkelanjutan. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)