FGD Balai Budaya Gambiran Bahas Ketahanan Energi dan Pangan

  • Jun 09, 2026
  • Adnan Nurtjahjo
  • Budaya

Sleman — Ketahanan energi dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat. Pemanfaatan energi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan juga menjadi langkah strategis dalam menjaga kelestarian alam di tengah berbagai tantangan perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan energi nasional.

Pandangan tersebut disampaikan pegiat pertanian terpadu dari Godean, Sleman, Agus Wibawa, saat menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion (FGD) yang berlangsung di Balai Budaya Gambiran, Yogyakarta, Selasa (9/6/2026). Kegiatan tersebut diikuti berbagai unsur masyarakat, akademisi, pegiat lingkungan, serta pelaku usaha yang memiliki perhatian terhadap isu energi dan pembangunan berkelanjutan.

Dalam paparannya, Agus Wibawa menjelaskan bahwa sektor pertanian sangat bergantung pada ketersediaan energi, mulai dari proses produksi, pengolahan hasil, distribusi, hingga pemasaran. Karena itu, upaya memperkuat ketahanan energi harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari strategi pembangunan ketahanan pangan nasional.

Menurutnya, ketergantungan yang tinggi terhadap energi fosil berpotensi menimbulkan kerentanan ekonomi akibat fluktuasi harga dan keterbatasan sumber daya. Oleh sebab itu, masyarakat perlu mulai mengembangkan dan memanfaatkan berbagai sumber energi terbarukan yang tersedia di lingkungan sekitar, seperti energi surya, biogas, biomassa, maupun energi berbasis limbah pertanian.

Agus menuturkan bahwa penerapan energi terbarukan di sektor pertanian tidak hanya mampu menekan biaya produksi, tetapi juga dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat. Limbah peternakan dan pertanian yang selama ini dianggap sebagai masalah dapat diolah menjadi sumber energi produktif yang mendukung kegiatan usaha masyarakat secara berkelanjutan, serta mengatasi krisis energi.

“Krisis energi bukan sekadar listrik padam, itu adalah awal dari krisis pangan, ekonomi, dan sosial. Jika listrik padam selama beberapa hari, maka pompa air berhenti dan jutaan warga tak dapat air bersih. UMKM dan e-commerce lumpuh total karena internet terputus. Distribusi pangan macet sehingga harga kebutuhan pokok melonjak. SPBU terganggu yang mengakibatkan distribusi BBM kacau dan antrean panjang. Yang paling ekstrim yaitu rumah sakit terdampak karena alat medis mati dan nyawa manusia terancam,” jelasnya di hadapan peserta FGD.

Lebih lanjut, Agus menerangkan konsep model desa mandiri energi dan pangan dalam satu kawasan sebagai konsep pembangunan desa yang mengintegrasikan sektor pertanian, peternakan, perikanan, energi terbarukan, pengelolaan air, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat dalam sebuah sistem yang saling mendukung. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan pangan dan energi masyarakat secara mandiri dengan memanfaatkan potensi sumber daya lokal secara berkelanjutan.

“Dalam model ini, lahan pertanian menjadi pusat produksi pangan, sementara limbah pertanian dan peternakan dimanfaatkan kembali sebagai sumber energi. Kotoran ternak, misalnya, diolah menjadi biogas untuk kebutuhan memasak, penerangan, atau penggerak mesin pertanian. Sisa olahan biogas berupa slurry dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang dikembalikan ke lahan pertanian sehingga tercipta siklus ekonomi sirkular tanpa banyak limbah yang terbuang,” bebernya.

Selain biogas, desa juga dapat mengembangkan energi surya melalui pemasangan panel surya untuk mendukung operasional pompa air, penerangan fasilitas umum, rumah produksi, hingga usaha mikro masyarakat. Dengan demikian, biaya energi dapat ditekan dan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil semakin berkurang.

Pengelolaan air menjadi bagian penting dalam model ini. Air hujan dapat ditampung dan dimanfaatkan untuk irigasi, kebutuhan ternak, maupun budidaya ikan. Penggunaan teknologi hemat air dan konservasi lingkungan juga membantu menjaga keberlanjutan sumber daya alam dalam jangka panjang.

Peserta FGD menyambut positif gagasan yang disampaikan Agus Wibawa. Mereka menilai bahwa penguatan literasi energi terbarukan perlu terus dilakukan agar masyarakat semakin memahami manfaat dan peluang pengembangan energi bersih sebagai bagian dari pembangunan desa dan pemberdayaan ekonomi lokal.

“Konsep ini sejalan dengan prinsip pembangunan hijau dan ekonomi sirkular, di mana seluruh potensi desa dimanfaatkan secara terpadu untuk menghasilkan pangan, energi, dan kesejahteraan masyarakat tanpa merusak lingkungan,” tandasnya.

Melalui forum diskusi tersebut, Agus berharap terbangun kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah, dunia pendidikan, komunitas, dan masyarakat dalam mengembangkan energi terbarukan. Dengan ketahanan energi yang kokoh, ketahanan pangan dapat diperkuat, kemandirian ekonomi masyarakat dapat diwujudkan, serta kelestarian lingkungan tetap terjaga sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan di masa depan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)