Hadapi Ekonomi Global, Majelis Taklim Harus Lebih Solutif dan Kontekstual
- Apr 19, 2026
- Adnan Nurtjahjo
- Keagamaan
Sleman — Pentingnya menghidupkan kembali majelis taklim dengan fokus pada permasalahan khusus untuk menghadapi persaingan global di era digitalisasi menjadi sorotan dalam peresmian kantor Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Nogotirto. Hal tersebut disampaikan pengasuh pondok pesantren Krapyak Yogyakarta, KH. Henry Sutopo dalam tauziyahnya di hadapan jama’ah yang memadati Lapangan Kyai Nur Iman, Mlangi, pada Minggu malam (19/4/2026).
Dalam kesempatan tersebut, KH. Henry menegaskan bahwa majelis taklim harus mengalami transformasi fungsi agar tidak tertinggal oleh perkembangan zaman. Menurutnya, di tengah arus globalisasi dan digitalisasi yang masif, majelis taklim tidak cukup hanya menjadi ruang pengajian rutin, tetapi perlu menjadi pusat penguatan kapasitas umat, khususnya dalam bidang ekonomi.
Ia menjelaskan, fokus kajian yang lebih spesifik dan kontekstual menjadi kunci agar majelis taklim mampu memberikan solusi nyata bagi jama’ah. Permasalahan seperti literasi keuangan, kewirausahaan berbasis digital, hingga penguatan ekonomi keluarga perlu menjadi bagian dari materi yang dibahas secara berkelanjutan.
“Kalau majelis taklim hanya berbicara hal-hal umum, maka kita akan tertinggal. Kita butuh majelis taklim yang mampu menjawab persoalan riil masyarakat, terutama dalam menghadapi persaingan ekonomi global,” ujar KH. Henry dalam ceramahnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa era digital membuka peluang besar bagi masyarakat untuk meningkatkan taraf ekonomi, namun di sisi lain juga menghadirkan tantangan yang tidak ringan. Oleh karena itu, jama’ah perlu dibekali dengan kemampuan adaptasi teknologi dan pemahaman ekonomi yang memadai agar tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga pelaku usaha.
KH. Henry mendorong agar majelis taklim berperan sebagai ruang inkubasi ekonomi berbasis komunitas. Melalui diskusi, pelatihan, dan pendampingan, majelis taklim dapat melahirkan wirausahawan baru yang berdaya saing serta mampu memanfaatkan platform digital untuk mengembangkan usaha.
Selain itu, ia menyoroti pentingnya sinergi antara pengurus Nahdlatul Ulama di tingkat ranting dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan lembaga keuangan, guna memperkuat ekosistem ekonomi umat. Kolaborasi ini dinilai dapat membuka akses permodalan, pelatihan, serta jaringan pemasaran yang lebih luas bagi jama’ah.
“Penguatan ekonomi umat harus tetap berlandaskan nilai-nilai keagamaan, seperti kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan di tengah persaingan ekonomi global yang semakin ketat,” jelasnya.
Peresmian kantor PRNU Nogotirto tersebut tidak hanya menjadi momentum simbolis penguatan kelembagaan, tetapi juga diharapkan menjadi titik awal kebangkitan majelis taklim yang lebih progresif dan solutif. Sehingga, majelis taklim dapat berperan strategis dalam mencetak masyarakat yang mandiri secara ekonomi sekaligus mampu bersaing di era digitalisasi. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)