Hadapi Krisis Global, Sleman Perkuat Manajemen Risiko dan Adaptasi Ekonomi
- Apr 16, 2026
- Adnan Nurtjahjo
- Berita Pemerintahan
Sleman — Guna membangun optimisme masyarakat di tengah dinamika krisis global, Pemerintah Kabupaten Sleman perlu melakukan penerapan manajemen risiko dan strategi adaptasi ekonomi sebagai fondasi dalam menjaga stabilitas. Ketidakpastian ekonomi dunia yang dipicu oleh konflik geopolitik, fluktuasi harga energi, hingga perubahan iklim menuntut daerah untuk memiliki ketahanan yang adaptif dan responsif.
Terkait hal tersebut, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Sleman menggelar kegiatan pembinaan bagi organisasi masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat yang berlangsung di Prima SR Hotel & Convention, Kamis (16/4/2026).
Ketua Program Studi Kewirausahaan Fakultas Ekonomi dan Sosial Universitas Amikom Yogyakarta, Laksmindra Saptyawati mengungkapkan bahwa manajemen risiko menjadi instrumen kunci dalam mengidentifikasi potensi ancaman yang dapat memengaruhi sektor ekonomi lokal.
“Dengan pendekatan ini, pemerintah daerah mampu memetakan kerentanan sekaligus merumuskan langkah mitigasi yang terukur. Hal ini penting agar dampak krisis global tidak secara langsung mengganggu kesejahteraan masyarakat Sleman, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah,” tandasnya.
Selain itu, strategi adaptasi ekonomi menjadi langkah konkret dalam menjaga keberlanjutan aktivitas ekonomi. Pemerintah Kabupaten Sleman mendorong diversifikasi sektor usaha, penguatan ekonomi berbasis digital, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Upaya ini diharapkan mampu menciptakan fleksibilitas ekonomi sehingga masyarakat tetap produktif di tengah tekanan global.
Laksmindra menyebutkan beberapa macam krisis global antara lain pandemi, volatilitas pasar (fluktuasi harga bahan pangan pokok yang sering kali dipicu oleh ketidakstabilan suplai), perubahan iklim, dan konflik geopolitik yaitu perang Iran vs AS-Israel yang berakibat pada penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur utama kapal-kapal tanker minyak bumi.
Menurutnya krisis global berdampak langsung ke Sleman melalui empat jalur. Pertama, harga input (pupuk, BBM, pakan) yang melonjak. Kedua, harga jual yang fluktuatif karena pasar melemah atau panen bersamaan. Ketiga, ketersediaan air atau iklim yang makin tak menentu. Keempat, pendapatan rumah tangga yang turun saat panen gagal atau harga turun.
Ketika terjadi konflik geopolitik atau gangguan perdagangan internasional, harga pupuk, pestisida, benih, dan energi bisa naik. Secara akademis, ini disebut cost-push pressure yakni biaya produksi naik lebih dulu, lalu margin petani menyempit.
“Dalam praktik di Sleman, petani padi, cabai, sayur, atau salak bisa sama-sama merasakan kenaikan ongkos budidaya. Jadi, walaupun panen tetap ada, keuntungan bersih belum tentu naik,” ujar Laksmindra.
Dengan penerapan manajemen risiko yang terintegrasi serta strategi adaptasi ekonomi yang inovatif, pemerintah daerah dapat menjaga ketahanan ekonomi serta menumbuhkan harapan dan optimisme masyarakat dalam menghadapi tantangan global.
“Optimisme masyarakat Sleman menjadi indikator penting keberhasilan strategi ini. Ketika masyarakat merasa terlindungi dan memiliki arah yang jelas dalam menghadapi krisis, kepercayaan terhadap pemerintah akan meningkat. Hal ini berdampak positif pada stabilitas sosial dan ekonomi daerah,” tegasnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)