Mahasiswa UPY Gandeng SAH Banyu Bening Sleman Edukasi Konservasi Tanah dan Air di Kulon Progo
- Jun 16, 2026
- Adnan Nurtjahjo
- Lingkungan Hidup
Sleman — Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian lingkungan terus dilakukan berbagai pihak, termasuk kalangan perguruan tinggi. Salah satunya melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat bertajuk Sosialisasi Konservasi Tanah dan Air yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (BEM-FKIP) bersama Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian (BEM-FP) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) di Pendopo Sasana Bhakti Praja Pendoworejo, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Selasa (16/6/2026).
Kegiatan hasil kolaborasi dengan Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman tersebut menjadi bagian dari pengabdian mahasiswa kepada masyarakat sekaligus sarana edukasi untuk meningkatkan pemahaman warga mengenai pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan melalui pengelolaan sumber daya tanah dan air secara berkelanjutan dihadapan perwakilan warga dari 17 padukuhan di Kalurahan Pendoworejo.
Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta menghadirkan pendiri SAH Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih sebagai narasumber. Saat mempresentasikan materi, Dia menjelaskan pentingnya pengelolaan air hujan dan pemeliharaan struktur tanah sebagai langkah strategis dalam menghadapi dampak perubahan iklim serta menjaga ketersediaan air bersih, terutama di wilayah perbukitan seperti Girimulyo.
“Konservasi tanah dan air bukan hanya tugas pemerintah atau aktivis lingkungan saja, melainkan tanggung jawab bersama yang dapat dimulai dari lingkungan rumah tangga. Memanen air hujan dan menjaga pori-pori tanah merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan dampak besar bagi keberlanjutan lingkungan,” tandas Wahyuningsih.
Sementara itu, Ibnu Maulana Afriyan selaku Ketua Panitia Kegiatan menjelaskan bahwa kolaborasi antara BEM-FKIP dan BEM-FP Universitas PGRI Yogyakarta dirancang untuk mengintegrasikan perspektif pendidikan dan pertanian dalam upaya pemberdayaan masyarakat 17 padukuhan di Kalurahan Pendoworejo.
“Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai konservasi tanah dan air, tetapi juga mampu menerapkan berbagai praktik baik sederhana yang relevan dengan kondisi lingkungan setempat,” terangnya antusias.
Lebih lanjut, Ibnu menjelaskan bahwa konservasi tanah dan air merupakan langkah strategis untuk menjaga produktivitas lahan sekaligus menjamin ketersediaan sumber air bagi generasi mendatang. Menurutnya, wilayah perbukitan seperti Girimulyo memiliki potensi kerentanan terhadap degradasi lingkungan apabila tidak dibarengi dengan upaya konservasi yang tepat.
Selain penyampaian materi, kegiatan diisi dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Warga mendapatkan pemahaman mengenai berbagai teknik konservasi sederhana yang dapat diterapkan di lingkungan sekitar. Beberapa di antaranya meliputi pembuatan biopori, penanaman vegetasi penutup tanah, pemanfaatan terasering, hingga pengelolaan air hujan di kawasan permukiman untuk meningkatkan cadangan air tanah.
Melalui forum sosialisasi konservasi tanah dan air ini, BEM-FKIP dan BEM-FP Universitas PGRI Yogyakarta berharap tumbuh kesadaran yang lebih kuat di tengah masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan. Dengan pengelolaan tanah dan air yang baik, keseimbangan ekosistem dapat terjaga, produktivitas lahan tetap optimal, serta kualitas hidup masyarakat dapat meningkat secara berkelanjutan.
“Semoga kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konservasi tanah dan air semakin meningkat, sehingga dapat mendukung ketahanan lingkungan, ketahanan pangan, serta keberlanjutan sumber daya alam di Kalurahan Pendoworejo,” harap Ibnu. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)