Hikmah Syawalan Lazisnu Sleman: Makna Ketakwaan Dalam Perspektif Surah Ali Imran Ayat 33

  • Apr 05, 2026
  • Adnan Nurtjahjo
  • Keagamaan

Sleman — Mengamalkan hikmah yang terkandung dalam Al-Qur'an, khususnya pada Surah Ali Imran ayat 33, menjadi bagian penting dalam membentuk karakter umat yang beriman dan berakhlak mulia. Ayat tersebut menegaskan tentang pilihan Allah terhadap keluarga-keluarga mulia sebagai teladan bagi umat manusia dalam menjalani kehidupan yang penuh nilai kebaikan.

Hikmah utama yang dapat dipetik dari ayat ini adalah pentingnya menjaga kualitas iman dan amal saleh dalam kehidupan sehari-hari. Keteladanan para nabi dan keluarga pilihan menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk senantiasa meningkatkan kualitas diri, baik secara spiritual maupun sosial.

Tema tersebut diangkat oleh KH. Muhammad Nasrulloh dalam tauziyahnya pada acara halal bihalal dan konsolidasi Lembaga Amil Zakat Infak dan Shodaqoh (Lazisnu) Kabupaten Sleman di Gedung Yureka Education Center (YEC) Nogotirto, Gamping, Sleman, Minggu (5/4/2026). Acara dihadiri Ketua Lazisnu Kabupaten Sleman, Hani Rochmanudin, Ketua Tanfidziyah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kapanewon Gamping, Silahudin Djamil, Ketua Unit Pengelola Zakat Infak dan Shodaqoh (Upzis) Kapanewon Gamping, Suhartono,  serta pengurus Upzis Kapanewon Ngaglik, Tempel, Mlati, Moyudan, Depok, dan Godean.

Berdasarkan nilai yang terkandung dalam Al-Qur'an Surah Ali Imran ayat 33, orang bertakwa adalah mereka yang memiliki keimanan kuat kepada Allah SWT serta menjadikan para nabi sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari. Keimanan tersebut tercermin dalam sikap hidup yang selalu berorientasi pada kebaikan dan ketaatan.

“Orang bertakwa senantiasa menjaga keikhlasan dalam beramal dan istiqamah dalam menjalankan perintah Allah SWT. Mereka tidak mencari pujian manusia, melainkan ridha Allah semata, serta berusaha menjaga akhlak mulia dalam setiap tindakan,” jelas KH. Nasrulloh.

Selain itu, ketakwaan juga terlihat dari sikap rendah hati serta kesungguhan dalam membina diri dan keluarga. Hal ini menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh keturunan, tetapi oleh kualitas iman, amal, dan akhlaknya.

Kaitannya dengan kehidupan saat ini, KH. Nasrulloh menekankan bahwa nilai-nilai dalam Surah Ali Imran ayat 33 relevan untuk diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan, kepemimpinan, dan kehidupan bermasyarakat. 

“Integritas, kejujuran, serta komitmen terhadap nilai-nilai kebaikan menjadi kunci utama dalam meraih keberkahan hidup,” tandasnya.

Pengamalan hikmah ayat ini juga mendorong umat Islam untuk tidak hanya berbangga dengan identitas keagamaan, melainkan membuktikannya melalui tindakan nyata. Amal perbuatan yang mencerminkan nilai-nilai keimanan menjadi indikator utama dalam menilai kualitas seseorang di hadapan Allah SWT.

KH. Nasrulloh menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh nasab atau keturunan, tetapi oleh ketakwaannya. Hal ini sejalan dengan pesan yang terkandung dalam Surah Ali Imran ayat 33, bahwa pilihan Allah didasarkan pada kualitas iman dan amal, bukan semata faktor keturunan biologis.

“Mengamalkan hikmah dari ayat tersebut berarti berusaha meneladani sifat-sifat mulia para nabi dan keluarga pilihan Allah dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini mencakup keikhlasan dalam beribadah, kesabaran dalam menghadapi ujian, serta kepedulian terhadap sesama,” pungkasnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)