Jaga Warisan Leluhur, Ratusan Warga Keditan Sleman Hidupkan Tradisi Nyadran di Makam Desa
- Feb 08, 2026
- Adnan Nurtjahjo
- Seni Budaya
Sleman — Ratusan warga Dusun Keditan, Padukuhan Salakan, Kalurahan Trihanggo, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, berkumpul memadati area pemakaman setempat untuk melaksanakan upacara adat Nyadran pada Minggu (8/2/2026). Tradisi turun-temurun ini digelar dengan penuh khidmat sebagai upaya menjaga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal di tengah arus modernisasi. Peristiwa ini menjadi momentum penting bagi masyarakat untuk merekatkan kembali tali silaturahmi sekaligus memanjatkan doa bagi para pendahulu.
Sejak pagi hari, geliat kebersamaan sudah terasa saat warga bergotong royong membersihkan nisan dan area sekitar makam. Aktivitas fisik ini bukan sekadar pembersihan lingkungan, melainkan simbol pembersihan hati dan penghormatan terhadap jasa para leluhur. Semangat gotong royong yang spontanitas dilakukan oleh anak-anak hingga orang tua ini menunjukkan bahwa kepedulian sosial di wilayah Keditan masih terjaga sangat kuat.
Puncak prosesi Nyadran ditandai dengan pembacaan doa bersama yang dipimpin oleh Slamet Sarmadi. Sebagai pemuka agama atau Rois setempat, ia memandu jamaah dalam suasana hening untuk memohon keselamatan, ketenteraman, serta keberkahan bagi seluruh warga dan generasi penerus. Doa-doa yang dipanjatkan menjadi simbol penyambung rasa syukur atas kehidupan yang tengah dijalani saat ini.
Dukuh Salakan, Suyana, menegaskan bahwa Nyadran memiliki peran strategis sebagai media pendidikan karakter bagi anak muda di wilayahnya. Menurutnya, tanpa adanya ritual fisik seperti ini, nilai-nilai luhur budaya Jawa dikhawatirkan akan luntur tertelan zaman. Ia ingin memastikan bahwa anak-anak di Padukuhan Salakan memahami identitas mereka melalui praktik langsung dalam kegiatan adat.
“Nyadran bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sarana pendidikan budaya bagi generasi muda. Melalui tradisi ini, nilai-nilai luhur seperti hormat kepada leluhur, gotong royong, dan kebersamaan terus kami tanamkan sejak dini agar tidak hilang dimakan zaman,” ujar Suyana di sela-sela acara.
Kemeriahan dan kehangatan semakin terasa saat warga mengeluarkan berbagai ubarampe atau sajian tradisional yang dibawa dari rumah masing-masing. Makanan tersebut menjadi simbol sedekah dan ungkapan rasa syukur yang kemudian dinikmati bersama-sama di area makam. Tradisi makan bersama ini menciptakan suasana kekeluargaan yang cair, di mana sekat-sekat sosial melebur dalam satu wadah kebersamaan.
Perwakilan Pemerintah Kalurahan Trihanggo, Budik Ariyantono, memberikan apresiasi tinggi atas konsistensi warga Dusun Keditan dalam merawat identitas Sleman. Ia menilai kesadaran kolektif untuk menjaga warisan budaya merupakan fondasi utama dalam menciptakan harmoni kehidupan bermasyarakat yang berkelanjutan. Tradisi ini terbukti masih relevan sebagai perekat sosial yang mampu menyatukan perbedaan di tingkat lokal.
“Tradisi ini sejalan dengan upaya pelestarian budaya lokal yang menjadi identitas masyarakat Sleman. Di tengah perkembangan zaman, keberlangsungan upacara adat Nyadran menunjukkan bahwa masyarakat kita masih memiliki kesadaran kolektif yang kuat untuk menjaga warisan budaya. Ini adalah modal sosial yang sangat berharga untuk menjaga kerukunan warga,” kata Budik Ariyantono.
Melalui pelaksanaan Nyadran ini, masyarakat Dusun Keditan berharap nilai-nilai spiritualitas dan kebudayaan tetap hidup dan diwariskan dengan utuh kepada generasi mendatang. Bagi mereka, kearifan lokal adalah panduan hidup untuk tetap rukun, saling menghormati, dan bersyukur dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)