Jelang HUT ke-7, Pasbuja Kawi Merapi Sleman Beri Pembekalan Penulis Cerkak Banyu

  • Oct 05, 2025
  • Adnan Nurtjahjo
  • Komunitas , Seni Budaya

Sleman – Menyongsong hari ulang tahun (HUT) ke-7, Paguyuban Sastra Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi Kabupaten Sleman menggelar kegiatan pembekalan bagi para penulis cerita pendek berbahasa Jawa atau cerita cekak (cerkak) di Resto Kembang Ndhesso, Godean, Sleman, Minggu (5/10/2025). Kegiatan ini menjadi ajang penting untuk memperkuat kemampuan literasi para penulis sekaligus mempersiapkan penerbitan buku antologi bertema “Banyu” yang menjadi simbol kehidupan, kesucian, dan perubahan dalam budaya Jawa.

Pembekalan diberikan oleh Novelis Senior, Budi Sardjono (Budsar) sekaligus Kepala Sekolah Sastra Sleman yang telah lama berkecimpung dalam dunia kepenulisan bahasa Jawa. Dalam diskusinya, ia menegaskan bahwa pembekalan ini bukan sekadar kegiatan teknis menulis, melainkan proses penguatan makna dan nilai budaya yang terkandung dalam setiap karya sastra Jawa.

“Banyu iku urip, air adalah kehidupan. Melalui tema ini, kita ingin menggugah kesadaran bahwa sastra Jawa sebagai sarana refleksi terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan lingkungan,” ujarnya penuh semangat.

Para peserta yang hadir terdiri dari penulis muda, guru bahasa Jawa, hingga sastrawan senior dari berbagai wilayah di Sleman dan sekitarnya. Mereka mendapatkan materi bagaimana menemukan ide, merancang alur cerita, pemilihan tokoh dalam cerita, penggunaan kata atau istilah dalam bahasa jawa termasuk penulisannya, serta penguatan gaya naratif khas Jawa agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Di sesi tanya jawab yang berlangsung hangat dan interaktif, para peserta berdiskusi perihal bagaimana “Banyu” dapat dimaknai secara luas, mulai dari air hujan, sungai, hingga filosofi kehidupan manusia. Banyak ide-ide segar bermunculan dari para penulis yang menafsirkan air sebagai simbol perubahan perilaku sosial, keberlanjutan lingkungan, hingga spiritualitas Jawa.

Kegiatan ini pun menjadi ruang temu antargenerasi. Para penulis senior berbagi pengalaman bagaimana menjaga keaslian bahasa Jawa tanpa terjebak dalam kekakuan struktur klasik, sementara penulis muda menampilkan gaya bercerita yang segar, dinamis, dan relevan dengan kondisi masyarakat masa kini.

“Sinergi ini menjadi kekuatan tersendiri dalam menjaga keberlangsungan sastra Jawa di tengah tantangan zaman,” tandas Budsar.

Upaya ini merupakan langkah awal untuk melahirkan karya bersama yang bernilai estetika sekaligus edukatif. Komunitas Pasbuja berharap buku antologi Banyu menjadi cermin kehidupan masyarakat Jawa yang selalu menghargai air, alam, dan harmoni. Lewat cerkak, pesan-pesan itu bisa sampai dengan lembut namun mendalam.

Selain pembekalan, pengurus Pasbuja membuka sesi kurasi naskah bagi calon kontributor antologi cerkak “Banyu” yang telah mengirimkan naskahnya yang dilakukan oleh Editor Senior Penerbit Kanisius, Veronika Naning. Para peserta diberi kesempatan mengirimkan cerkak terbaik mereka untuk diseleksi dan dibukukan sebagai karya kolektif Pasbuja. Peluncuran buku ini direncanakan pada saat puncak peringatan ulang tahun ke-7 Pasbuja pada 30 November 2025 mendatang.

Pembekalan penulis cerkak menjadi wujud nyata komitmen Pasbuja Kawi Merapi dalam melestarikan dan mengembangkan sastra Jawa di Kabupaten Sleman. Melalui tema “Banyu”, komunitas ini berupaya mengalirkan semangat baru bagi penulis muda agar terus berkarya, menjaga bahasa ibu, dan menebar nilai-nilai kearifan lokal yang menyejukkan seperti air kehidupan itu sendiri. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)