Jurnalis Diajak Jadi Agen Perubahan dalam Pelestarian Sumber Daya Air

  • Aug 02, 2025
  • Adnan Nurtjahjo
  • Lingkungan Hidup

Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur menggandeng Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman untuk melatih puluhan jurnalis dalam program “Jurnalis Tangguh Bencana” di Taman Wisata Alam Air Panas Cangar, Sabtu (2/8/2025). Pelatihan ini bertujuan meningkatkan pemahaman media tentang pengelolaan sumber daya air sebagai bagian dari mitigasi bencana.

Sri Wahyuningsih, Founder Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman, memaparkan inovasi sistem pengelolaan air hujan kepada jurnalis dari kelompok kerja Grahadi dan Indrapura. “Kami memperkenalkan Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan (ISLAH) sebagai solusi pemenuhan kebutuhan air bersih sekaligus mengurangi eksploitasi air tanah,” jelasnya.

Dalam pelatihan ini, peserta tidak hanya belajar teori tetapi juga praktik langsung teknologi pengolahan air hujan. Wahyuningsih mendemonstrasikan proses elektrolisis air yang mampu memisahkan air menjadi dua jenis – air basa untuk konsumsi dan air asam yang bermanfaat sebagai obat luar. “Air asam hasil elektrolisis efektif untuk mengatasi radang tenggorokan, sakit gigi, dan sariawan,” tambahnya.

Pelatihan ini menekankan peran strategis jurnalis dalam membangun kesadaran masyarakat tentang pengelolaan sumber daya air. “Jurnalis harus mampu tidak hanya melaporkan bencana, tetapi juga mengedukasi masyarakat tentang pencegahan dan solusi berkelanjutan,” tegas Wahyuningsih.

Para peserta juga terlibat langsung dalam aksi nyata pelestarian lingkungan dengan menanam berbagai bibit pohon produktif seperti durian, jambu air, dan mangga di kawasan wisata. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan keragaman hayati sekaligus mencegah erosi tanah.

Program ini diharapkan dapat mencetak jurnalis yang tidak hanya menjadi penyampai informasi, tetapi juga agen perubahan dalam pelestarian sumber daya alam. “Dengan pemahaman yang baik tentang mitigasi bencana, jurnalis dapat menyajikan berita yang tidak hanya informatif tetapi juga inspiratif,” pungkas Wahyuningsih. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)