Kajian Seroja Banyuraden Ungkap Lima Pilar Komunikasi Sehat

  • Jun 07, 2026
  • Adnan Nurtjahjo
  • Keagamaan

Sleman — Komunikasi yang sehat menjadi fondasi penting dalam membangun hubungan yang harmonis di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Hal tersebut disampaikan dr. Bambang Edi Susyanto, Sp.A saat menjadi narasumber dalam kajian Komunitas Sehat Rohani Jasmani (Seroja) yang digelar di Pendhapa Kekandhangan Banyuraden, Minggu sore (7/6/2026).

Dalam paparannya, dr. Bambang menjelaskan bahwa komunikasi yang sehat tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berbicara, melainkan menyangkut cara seseorang memahami, menghargai, dan merespons kawan bicara secara tepat. Menurutnya, kualitas komunikasi yang baik mampu mencegah berbagai konflik dan memperkuat hubungan antar individu.

Karakteristik pertama komunikasi sehat adalah perkataan jujur atau benar (Qaulan Sadidan). dr. Bambang menekankan pentingnya menyampaikan pikiran dan perasaan secara jujur tanpa menyembunyikan hal-hal yang dapat menimbulkan kesalahpahaman. Keterbukaan, menurutnya, menjadi dasar terbentuknya rasa saling percaya dalam sebuah hubungan.

Selanjutnya, karakteristik kedua yaitu berkata yang baik (Qaulan Ma'rufa). Dia menjelaskan bahwa kata-kata yang baik dapat menciptakan suasana yang harmonis, menumbuhkan kepercayaan, serta mempererat persaudaraan. 

“Sebaliknya, ucapan yang kasar, menyakitkan, atau tidak bijaksana dapat menimbulkan kesalahpahaman, konflik, bahkan melukai perasaan orang lain. Karena itu, membiasakan berkata yang baik merupakan bentuk penghormatan kepada sesama sekaligus cara menjaga kerukunan dan menciptakan lingkungan sosial yang sehat dan positif,” timpal dr. Bambang.

Adapun karakteristik ketiga adalah memiliki empati (Qaulan Karima). Menurut dr. Bambang, empati merupakan kemampuan memahami perasaan dan sudut pandang orang lain. Dengan menempatkan diri pada posisi kawan bicara, seseorang akan lebih bijaksana dalam memberikan tanggapan maupun mengambil keputusan.

Berikutnya disebutkan karakteristik keempat yaitu perkataan yang lemah lembut atau santun (Qaulan Layyinan). dr. Bambang mengatakan, penggunaan bahasa yang santun, penuh penghargaan, dan tidak menyudutkan pihak lain akan menciptakan komunikasi yang lebih efektif. 

“Sikap yang santun juga membantu membangun suasana yang kondusif dalam keluarga maupun lingkungan sosial,” tandasnya.

Sedangkan karakteristik kelima adalah menghindari ghibah atau fitnah (Qaulan Adzima). dr. Bambang menjelaskan bahwa Menghindari ghibah (membicarakan keburukan orang lain) dan fitnah (menyebarkan tuduhan atau informasi yang tidak benar) sangat penting karena keduanya dapat merusak hubungan sosial, menimbulkan permusuhan, dan menghancurkan kepercayaan dalam masyarakat. 

Dalam ajaran Islam, khususnya Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 12, ghibah dan fitnah termasuk perbuatan yang dilarang karena bertentangan dengan nilai kejujuran, persaudaraan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Penerapan kelima karakteristik tersebut sangat relevan di tengah tantangan kehidupan modern yang ditandai dengan tingginya intensitas penggunaan media digital. Kemampuan berkomunikasi secara sehat menjadi keterampilan penting agar hubungan sosial tetap terjaga dengan baik meskipun banyak interaksi dilakukan melalui teknologi. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)