Kajian Seroja: Menemukan Makna dan Kekuatan dalam Menghadapi Ujian Hidup

  • Sep 08, 2025
  • Adnan Nurtjahjo
  • Keagamaan

Sleman – Komunitas Sehat Rohani Jasmani (Seroja) Banyuraden menyelenggarakan kajian bertajuk “Merawat Jiwa Membasuh Luka, Seni Mengobati Hati” di Pendhapa Kekandhangan Banyuraden, Senin (8/9/2025). Acara yang menghadirkan Khamzah Beriasta, Ketua Bidang Psikososial Bulan Sabit Merah Indonesia DIY ini membahas strategi menyikapi berbagai bentuk ujian hidup melalui pendekatan spiritual dan psikologis.

Khamzah Beriasta dalam pemaparannya menekankan bahwa ujian hidup, seperti kegagalan, sakit, atau konflik, merupakan bagian tak terelakkan dari kehidupan dan harus disikapi sebagai jalan untuk mengasah kesabaran dan ketahanan mental.

“Dalam perspektif Islam, ujian bukanlah tanda kebencian Allah, melainkan bentuk kasih sayang-Nya untuk mendekatkan hamba kepada-Nya,” jelas Khamzah.

Ia lebih lanjut menyoroti kecenderungan sebagian orang yang keliru menafsirkan musibah sebagai azab semata. Padahal, ujian dapat menjadi sarana penghapus dosa dan peninggian derajat di sisi Allah jika dihadapi dengan sikap yang tepat. Langkah pertama yang penting adalah kesadaran penuh bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Khamzah juga membagikan sejumlah langkah praktis untuk mengatasi ujian, di antaranya adalah memperkuat ikhtiar disertai kesabaran, memperbanyak doa dan dzikir untuk menenangkan hati, serta aktif membaca Al-Qur’an untuk mendapatkan pencerahan. Menolong sesama, melaksanakan sholat dengan khusyuk, dan menjauhi larangan-Nya disebutkan sebagai kunci membuka pintu pertolongan Allah.

“Doa dalam sholat bukan sekadar permintaan, melainkan bentuk penyerahan diri dan pengakuan atas kelemahan kita di hadapan Allah. Istighfar menjadi cara untuk membersihkan hati dan mempercepat datangnya pertolongan,” pungkasnya.

Kajian ini diharapkan dapat memberikan perspektif baru bagi peserta dalam menghadapi tantangan hidup, mengubah cara pandang terhadap musibah, dan menemukan ketenangan jiwa melalui pendekatan spiritual yang positif. (Adnan Nurtjahjo | KIM Pararta Guna Gamping)