Kekandhangan Banyuraden Gandeng Liputan 6 SCTV untuk Edukasi Pencegahan Hoaks
- Sep 21, 2021
- Aryo Tejo
- Pendidikan
Sleman – Dalam rangka belajar merangkai berita dan mengantisipasi berita hoaks maka Komunitas Kekandhangan Banyuraden menggandeng Liputan 6 menyelenggarakan kegiatan bertajuk ‘Sanja Kekadangan Bersama Bung Wisnu Wardana Stop Hoaks’ yang digelar di Pendopo Kekandhangan, Padukuhan Cokrowijayan, Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Sabtu (25/9/2021) malam.
Kegiatan yang diinisiasi oleh Koordinator Kekandhangan, Samastha yang juga sebagai pengurus Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Pararta Guna Kapanewon Gamping bersama Jurnalis Liputan 6, Wisnu Wardana diikuti oleh beberapa relawan yang ingin belajar menyusun berita sekaligus mengenali dengan cepat dan menangkal berita hoaks yang beredar di dunia maya.
Sanja yang berlangsung secara santai tapi serius di awali dengan pemantik diskusi yakni tiga pertanyaan sederhana untuk mendeteksi berita hoaks, antara lain dari mana asalnya, apakah ada yang janggal, serta bagaimana perasaan pembaca.
Menurut Wisnu Wardana sekarang sudah ada beberapa cara gampang untuk mengecek berita hoaks. Salah satunya adalah Liputan 6 melakukan cek fakta menggunakan chatbot apabila mendapati keragu-raguan terhadap suatu berita yang diduga hoaks dan disinformasi. Dengan menambahkan nomor 08119787670 di kontak smartphone atau dengan klik tautan https://wa.me/628119787670?text=halo selanjutnya menuliskan kata kunci untuk memulai pencarian dan akan keluar berita yang dicari.
“Pastikan terlebih dahulu sumber dari berita tersebut. Lalu cek adakah yang aneh? Seperti URL yang tidak jelas, penulisan ngawur, atau tampilan tidak meyakinkan. Kemudian baca informasi tersebut selengkapnya dan perhatikan adakah yang janggal dari berita tersebut, serta cek juga sumber foto atau video yang mungkin disematkan,” tegas Wisnu.
Selain itu, Wisnu memberikan tips cara mengidentifikasi hoaks dan disinformasi berita di media sosial. Yang pertama adalah mengembangkan pola pikir yang kritis, kemudian periksa sumber penulis dan publikasinya, mencari tahu apakah orang lain juga melaporkan berita yang sama, serta jangan langsung percaya terhadap foto dan video dari media sosial.
“Headline yang sensasional merupakan indikasi disinformasi oleh karena itu perlu dicek kebenarannya dan jangan tergoda dengan berita-berita sensasional karena ongkos sosialnya sangat tinggi,” pesan Wisnu kepada para relawan.
(Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)