Ketua GP Ansor Sleman Serukan Lima Amanat Strategis Apel Akbar Harlah ke-92

  • Apr 26, 2026
  • Adnan Nurtjahjo
  • Pemuda

Sleman — Apel akbar dalam rangka peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-92 Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Sleman yang digelar di Lapangan Baratan, Candibinangun, Sleman, Minggu (26/4/2026), berlangsung khidmat dan penuh semangat kebangsaan. Kegiatan ini diikuti ratusan kader Ansor dan Banser dari 17 kapanewon sebagai momentum konsolidasi organisasi sekaligus penguatan komitmen kebangsaan.

Dalam amanatnya, Ketua GP Ansor Kabupaten Sleman, H.M. Najib Yuliantoro menegaskan lima pesan penting yang harus dijadikan pedoman oleh seluruh kader Ansor dalam berkhidmat di organisasi. Kelima amanat tersebut dirumuskan sebagai arah strategis untuk memperkuat peran Ansor dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.

Amanat pertama bahwa GP Ansor sebagai Jam’iyyah Diniyyah Islamiyyah Ijtima’iyyah (organisasi keagamaan, keislaman, dan sosial masyarakat) yang ditugaskan oleh Nahdlatul Ulama untuk menjaga kyai-kyai dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

“Ketika bertugas, kader Ansor dan Banser jangan lupa, harus sholat, Subuh tidak boleh terlambat, siap sahabat-sahabat?,” tegas H.M. Najib di atas podium.

Selanjutnya, amanat kedua menggarisbawahi perlunya konsolidasi karena Ansor adalah sebuah gerakan.  Ia menyebutkan ada tiga macam konsolidasi, yaitu konsolidasi agenda, konsolidasi komando pimpinan, dan konsolidasi administrasi.

Yang ketiga adalah kaderisasi. Menurut H.M. Najib, GP Ansor akan menjadi kuat jika kadernya berkualitas. Artinya, mampu menerjemahkan nilai-nilai organisasi menjadi tindakan nyata. Kader yang terdidik dan terlatih akan mampu mengimplementasikannya dalam program kerja, advokasi sosial, hingga respons terhadap isu-isu kebangsaan.

“GP Ansor berkomitmen mencetak kader Ansor yang kapabel, profesional, dan memiliki ruhul jihad menjadi pejuang yang memperjuangkan nilai-nilai Nahdlatul Ulama. Ansor bukan hanya hadir dalam barisan, tetapi mampu menjadi penggerak dan solusi bagi umat,” ungkapnya.

Amanat keempat adalah kemandirian organisasi. Artinya, GP Ansor harus berdiri di atas kaki sendiri. Jika organisasi mandiri dan berdaulat, maka Ansor tidak mudah diintervensi, tidak mudah goyah, dan tidak mudah disandera oleh agenda-agenda di luar Ansor.

“Kita harus mengembangkan usaha-usaha mandiri, memperkuat badan usaha mandiri Ansor, dan membangun ekonomi organisasi,” lanjut H.M. Najib bersemangat.

Dan amanat kelima yaitu membangun dan menjaga kepercayaan. Modal terbesar Ansor adalah kepercayaan, usia 92 tahun menjadi bukti bahwa Ansor telah mendapatkan kepercayaan masyarakat.

H.M. Najib berharap, kepercayaan yang telah lama dibangun oleh para senior dengan integritas, kerja nyata, dan komitmen harus dijaga. Karena berfungsi sebagai modal sosial yang memungkinkan organisasi bergerak lebih efektif, diterima publik, dan memiliki daya tawar dalam berbagai forum.

“Karena itu, menjaga kepercayaan berarti menjaga keberlanjutan organisasi. Kader hari ini bukan hanya penerima manfaat, tetapi juga penjaga amanah yang menentukan apakah Gerakan Pemuda Ansor tetap dihormati atau justru kehilangan tempat di hati masyarakat,” pungkasnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)