Kominfo DIY Latih KIM Bikin Konten Pendidikan dan Kebudayaan

  • Oct 15, 2025
  • Adnan Nurtjahjo
  • Seni Budaya, Teknologi

Sleman – Peningkatan kapasitas anggota Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) menjadi salah satu langkah penting dalam memperkuat peran masyarakat sebagai produsen informasi yang cerdas dan kreatif. Hal ini tampak jelas dalam kegiatan pelatihan bertajuk “Teknik Pembuatan Konten Pendidikan dan Kebudayaan” yang diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika Daerah Istimewa Yogyakarta (Kominfo DIY) di Aula Kresna, Rabu (15/10/2025).

Kegiatan yang dibuka secara resmi oleh Asisten Sekretariat Daerah DIY Bidang Administrasi Umum, Srie Nurkyatsiwi didampingi Kepala Dinas Kominfo DIY, HET Wahyu Nugroho ini menghadirkan konten kreator muda berbakat, Gilang Hanansyah bersama Ketua Dewan Pendidikan DIY, Prof. Sutrisna Wibawa sebagai narasumber.

Dalam paparannya, Gilang menekankan bahwa dunia digital kini bukan hanya tempat hiburan, melainkan sebagai ruang pembelajaran dan pelestarian nilai-nilai budaya. Menurutnya, KIM memiliki posisi strategis dalam membangun narasi positif di tengah derasnya arus informasi.

“KIM bisa menjadi penyeimbang di tengah banjir konten, terutama dengan menghadirkan karya yang mengedukasi dan berakar pada budaya lokal,” ungkap Gilang.

Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan KIM dari berbagai kabupaten dan kota di DIY. Para peserta mendapatkan pembekalan mulai dari dasar pembuatan ide konten, teknik pengambilan gambar, hingga pengelolaan media sosial (instagram, tiktok, dan youtube). Melalui pendekatan learning by doing, pegiat informasi tersebut diajak langsung mempraktikkan pembuatan konten video dengan berbagai jenisnya, termasuk blog video (vlog).

Menurut Gilang, konten edukasi dan kebudayaan memiliki daya tarik tersendiri jika dikemas secara kreatif dan relevan dengan kehidupan masyarakat. Ia mencontohkan, video sederhana tentang tradisi lokal atau tokoh inspiratif di desa bisa menjadi sumber pengetahuan sekaligus bentuk pelestarian warisan budaya. “Kuncinya bukan pada peralatan mahal, tapi pada pesan yang kuat dan autentik,” jelasnya.

Para peserta antusias bertanya tentang strategi membangun audiens di media sosial, cara mengedit video secara efektif, hingga etika digital dalam penyebaran informasi. Gilang menjawab setiap pertanyaan dengan lugas, disertai contoh konkret dari pengalaman pribadinya sebagai kreator konten yang aktif di berbagai platform.

Selain belajar teknik produksi, peserta pun diajak memahami pentingnya riset dan narasi lokal. Gilang mengingatkan bahwa kekuatan utama konten edukatif dan budaya terletak pada keaslian cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat. “Konten yang jujur dan punya nilai lokal akan lebih mudah diterima dan memiliki dampak jangka panjang,” tuturnya.

Sementara itu, Prof. Sutrisna Wibawa selaku Ketua Dewan Pendidikan DIY menegaskan pentingnya pelatihan ini untuk memperkuat kapasitas KIM dalam menghadirkan konten yang informatif dan mendidik.

Di era digital saat ini, masyarakat menjadi penerima informasi sekaligus produsen. Karena itu, kemampuan mengelola konten yang mencerminkan budaya kejogjaan menjadi kebutuhan utama. Ia berharap KIM tidak hanya aktif menyebarkan informasi, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan melalui karya digitalnya.

Prof. Sutrisna mengatakan, pendidikan khas kejogjaan memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda yang berilmu sekaligus berbudaya. Nilai-nilai seperti unggah-ungguh (tata krama), tepa selira (tenggang rasa), dan gotong royong menjadi fondasi moral yang menjiwai proses belajar.

Di tengah arus globalisasi yang serba cepat, pendidikan khas Kejogjaan hadir sebagai penyeimbang antara kecerdasan intelektual dan kearifan lokal. Selain mengajarkan pengetahuan akademis, ajaran tersebut juga menanamkan rasa hormat, kesederhanaan, dan tanggung jawab sosial, sebagaimana filosofi “hamemayu hayuning bawana” yaitu sikap dan perilaku manusia yang selalu mengutamakan harmoni.

Melalui tangan kreatif anggota KIM, semangat edukasi dan pelestarian budaya di Daerah Istimewa Yogyakarta diyakini akan terus tumbuh, memperkaya ruang digital dengan nilai-nilai lokal yang berkarakter dan mencerdaskan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)