Komunitas Seroja Sleman Dorong Kesadaran Kolektif Kelola Sampah
- Aug 31, 2025
- Adnan Nurtjahjo
- Komunitas , Lingkungan Hidup
Sleman - Sebuah kajian bertema “Sehatku dengan Cinta Lingkungan Pada Pengolahan Sampah Yang Berkah” digelar Komunitas Sehat Rohani Jasmani (Seroja) di Pendhapa Kekandhangan, Banyuraden, Sleman, Minggu (31/8/2025).
Kajian yang dipandu Duta Green Nasyiah, Liza Uswatun Husna Lubis ini tidak hanya menjadi ruang renungan spiritual, namun juga mendorong kesadaran kolektif bahwa pengelolaan sampah adalah jalan menuju hidup sehat sekaligus ladang keberkahan.
Dalam kajian tersebut, pengelolaan sampah dipandang bukan hanya sebagai upaya teknis, tetapi juga bernilai ibadah. Dengan mengutip ajaran agama, disampaikan bahwa menjaga kebersihan adalah bagian dari keimanan. Sampah yang selama ini dianggap masalah justru bisa menjadi berkah jika dikelola secara bijak, misalnya melalui bank sampah, pengomposan, maupun daur ulang.
“Cinta lingkungan bukan sekadar jargon, melainkan wujud nyata dalam keseharian, seperti memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan memanfaatkan kembali barang bekas agar bernilai guna,” ucap Liza.
Peserta diajak merenung bahwa setiap botol plastik, sisa dapur, maupun kertas bekas memiliki potensi ekonomi. Ditampilkan pula kisah sukses kelompok warga yang mampu menambah pendapatan keluarga melalui hasil olahan sampah organik menjadi pupuk kompos dan sampah anorganik menjadi kerajinan tangan. Hal ini membuktikan bahwa sampah tidak selamanya identik dengan kotor dan merugikan.
Lebih jauh, Liza menekankan pentingnya pola hidup sehat yang dimulai dari lingkungan bersih. Sampah yang menumpuk dan tak terkelola dapat memicu berbagai penyakit, mulai dari diare, demam berdarah, hingga infeksi kulit. Karena itu, menyintai lingkungan berarti pula menjaga kesehatan diri dan keluarga.
Sampah merupakan tanggung jawab bersama. Jika dikelola dengan cinta lingkungan, maka sampah bukan lagi sumber masalah, melainkan berkah yang membawa kesehatan, kebersihan, bahkan tambahan rezeki. Liza berharap pesan ini dapat tertanam dalam hati setiap peserta untuk diamalkan di kehidupan sehari-hari.
Kajian ini menjadi bukti bahwa pendekatan spiritual dan sosial dapat berjalan beriringan dalam mengatasi masalah lingkungan. Melalui kolaborasi warga, tokoh agama, dan komunitas peduli lingkungan maka pengelolaan sampah bisa menjadi gerakan yang berkelanjutan.
“Tidak cuma menjaga kebersihan, inisiatif ini menegaskan bahwa kesehatan dan keberkahan bisa tumbuh dari cinta terhadap lingkungan,” ujarnya.
Sampah yang dikelola dengan cinta membuat lingkungan lebih sehat, sekaligus menjadi amal jariyah bagi siapa saja yang terlibat. Dengan langkah sederhana memilah dan mengolah sampah, Komunitas Seroja sedang menapaki jalan ibadah yang mendatangkan kesehatan dunia sekaligus pahala akhirat. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)