Lansia Banyuraden Sulap Dedaunan Jadi Busana Ecoprint Bernilai Tinggi

  • Feb 22, 2026
  • Adnan Nurtjahjo
  • Pemberdayaan

Sleman — Usia senja terbukti bukan penghalang untuk tetap produktif dan inovatif. Di tangan para anggota Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Lansia Tangguh Banyuraden, dedaunan dan bahan alami diolah menjadi berbagai busana ecoprint yang estetik dan ramah lingkungan. Bertempat di Sekretariat Somodaran, Banyuraden, Gamping, Sleman, kelompok ini terus mematangkan produksi berbagai produk mulai dari topi, kebaya, tas, hingga kain siap pakai pada Minggu (22/2/2026).

Kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan pendapatan ekonomi, tetapi juga menjadi wadah bagi warga lanjut usia untuk mengekspresikan kreativitas mereka. Teknik ecoprint dipilih karena prosesnya yang aman dan tidak menggunakan zat kimia berbahaya, sehingga sangat cocok dilakukan oleh para lansia. Ketelatenan dalam menata motif daun pada lembaran kain menghasilkan karya unik yang kini mulai diminati pasar luas.

Ketua KUBE Lansia Tangguh Banyuraden, Hayati Karyamulya, menjelaskan bahwa produktivitas adalah kunci utama untuk menjaga semangat hidup di usia lanjut. Menurutnya, proses pembuatan ecoprint yang membutuhkan kesabaran justru menjadi momentum bagi para lansia untuk menunjukkan pengalaman dan ketelitian mereka dalam menghasilkan produk berkualitas yang bersaing di pasar ekonomi kreatif.

“Usia bukan penghalang untuk tetap berkarya dan berkontribusi bagi lingkungan sekitar. Aktivitas bersama dalam produksi ecoprint ini menciptakan ruang interaksi yang positif sehingga para anggota bisa saling mendukung satu sama lain. Kami ingin membuktikan bahwa melalui ketelatenan, lansia tetap mampu menghasilkan karya yang memiliki nilai jual tinggi sekaligus menjaga kesehatan mental dan emosional,” ujar Hayati Karyamulya saat ditemui di kantornya.

Dukungan terhadap inovasi ini juga datang dari Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) Pelita Kasih Banyuraden. Ketua LKS Pelita Kasih, Sumanto, menilai bahwa program ini merupakan wujud nyata pemberdayaan masyarakat yang berbasis pada potensi lokal. Hebatnya lagi, usaha ini telah memiliki payung hukum yang kuat dengan adanya Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikat Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI), yang menjadi modal besar untuk bersaing secara profesional.

Sumanto mendorong agar kelompok ini mulai merambah ranah pemasaran digital untuk memperluas jangkauan pasar hingga ke luar daerah. Menurutnya, produk yang berkelanjutan dan berbasis lingkungan memiliki daya tarik tersendiri bagi konsumen modern saat ini. Pemanfaatan teknologi akan membantu produk karya lansia ini mendapatkan apresiasi yang lebih luas dari komunitas kreatif dan pelaku usaha lainnya.

“Langkah untuk menjajaki pemasaran digital sangat penting agar jangkauan pasar semakin luas dan daya saing produk meningkat. Produk ecoprint ini adalah solusi ekonomi kreatif yang sangat edukatif bagi masyarakat tentang pentingnya menjaga alam. Kami berharap keberhasilan KUBE Lansia Tangguh ini dapat membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk terus meningkatkan kualitas hidup para anggotanya,” tutur Sumanto memberikan apresiasi.

Dengan semangat kebersamaan, KUBE Lansia Tangguh Banyuraden kini berdiri sebagai motor penggerak ekonomi kreatif di tingkat desa. Kreativitas yang mereka kembangkan menunjukkan bahwa kebermaknaan hidup dapat terus dipupuk melalui inovasi yang selaras dengan pelestarian lingkungan. Produk-produk yang dihasilkan bukan sekadar komoditas dagang, melainkan simbol semangat pantang menyerah dari para pejuang ekonomi usia senja. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)