Lomba Masak Tumpeng Nasi Kuning Simbol Persaudaraan Padukuhan Salakan
- Aug 24, 2025
- Adnan Nurtjahjo
- Kuliner
Sleman – Selama ini, aktivitas memasak sering dianggap sebagai ranah ibu-ibu, namun dengan adanya lomba memasak tumpeng nasi kuning bagi para bapak di Padukuhan Salakan, Gamping, Sleman menjadi keunikan tersendiri.
Lomba yang digelar pada hari Minggu (24/8/2025) ini menjadi sarana hiburan yang sehat dan edukatif bagi seluruh warga. Tawa dan canda para bapak saat memasak bukan hanya menjadi tontonan menarik, tetapi juga contoh positif bagi generasi muda bahwa perayaan kemerdekaan dapat dilakukan dengan cara yang kreatif, membangun kebersamaan, dan tetap menjaga akar budaya.
Dengan semangat kemerdekaan, mereka tidak segan beradu keahlian meracik bumbu, menata lauk, hingga membentuk tumpeng nan indah. Pemandangan ini menjadi bukti bahwa peringatan hari kemerdekaan bukan sekadar seremonial, melainkan momentum memperkuat rasa persaudaraan dan kebersamaan warga.
Berdasarkan keterangan Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan (LPMKal) Padukuhan Salakan, Sarji bahwa penilaian lomba memasak tumpeng nasi kuning meliputi cita rasa, penyajian dan penampilan, kebersihan, ketepatan waktu memasak, serta kekompakan.
Menurut Sarji, pihaknya memilih menu tumpeng nasi kuning untuk dilombakan karena tumpeng memiliki filosofi mendalam dalam budaya Jawa, melambangkan rasa syukur dan doa agar kehidupan selalu diliputi keberkahan. Ketika para bapak memasaknya dengan penuh semangat, nilai tradisi tersebut semakin terasa kental. Lomba ini pun menjadi wadah untuk memperkenalkan kembali makna tumpeng kepada generasi muda yang menonton.
Para bapak belajar mengenal bahan-bahan tradisional, mengolahnya dengan kreativitas, serta memahami peran penting menjaga kearifan lokal. “Inilah bentuk nyata bagaimana budaya dapat hidup di tengah masyarakat melalui kegiatan sederhana namun bermakna,” terang Sarji.
Di sisi lain, Dukuh Salakan, Suyana mengatakan lomba memasak nasi tumpeng juga menjadi media untuk menguatkan solidaritas antarwarga. Setiap kelompok peserta yang terdiri dari 5 orang bapak berasal dari RT.01 hingga RT.08 sehingga tercipta interaksi yang lebih erat. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan dapat diwujudkan melalui kerja sama dan kebersamaan dalam hal apa pun, termasuk memasak.
Tumpeng yang dilengkapi dengan berbagai varian lauk mencerminkan keberagaman yang tetap berpadu menjadi satu kesatuan. Sama halnya dengan bangsa Indonesia yang kaya akan perbedaan, namun tetap bersatu dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.
“Melalui kegiatan seperti ini, peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia di Padukuhan Salakan menjadi lebih bermakna dan berkesan,” sambung Suyana.
Usai mencicipi masakan dan melakukan penilaian dewan juri menetapkan RT.06 sebagai Juara I dengan nilai 431, disusul RT.01 sebagai Juara II dengan nilai 430, dan RT.07 sebagai Juara III dengan nilai 421.
Lewat lomba memasak tumpeng, para bapak telah menunjukkan bahwa kebersamaan, kreativitas, dan semangat persatuan sebagai warisan yang harus terus dijaga dari generasi ke generasi. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)