Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Dalami Metode ISLAH di Sekolah Air Hujan Sleman

  • May 04, 2026
  • Adnan Nurtjahjo
  • Lingkungan Hidup

Sleman — Mahasiswa program studi Sosiologi kini dituntut tidak hanya piawai dalam mengulas teori sosial, tetapi juga harus mampu merespons persoalan nyata di tengah masyarakat. Hal tersebut ditunjukkan oleh dua mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Arifah Fajri Kusumastuti dan Najwa Mayasaro Sayyidati, yang terjun langsung mempelajari pengolahan air hujan di Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman, Senin (4/5/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan kapasitas mahasiswa dalam mendalami isu sosiologi lingkungan yang kian relevan dengan kondisi zaman. Pengolahan air hujan menjadi fokus utama karena berkaitan erat dengan problematika akses air bersih dan keberlanjutan sumber daya alam yang sering kali memicu dinamika sosial di masyarakat. Melalui praktik ini, mahasiswa diharapkan dapat melihat bagaimana teknologi lingkungan berinteraksi dengan struktur sosial warga.

Dalam sesi pembelajaran tersebut, keduanya mendalami metode ISLAH atau Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan. Teknologi ini merupakan sistem sederhana namun efektif untuk memanen, menyaring, dan menyimpan air hujan sehingga layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Metode ini dinilai menjadi solusi alternatif yang paling masuk akal bagi masyarakat untuk menghadapi ancaman keterbatasan air bersih di masa depan.

“Pengolahan air hujan kami pilih sebagai media pembelajaran karena relevansinya dengan isu krisis air bersih yang semakin nyata di berbagai wilayah. Pengalaman belajar langsung di lapangan seperti ini memberikan pemahaman yang jauh lebih mendalam dibandingkan hanya sekadar membaca teori di bangku kuliah,” ujar Najwa Mayasaro Sayyidati di sela-sela kegiatannya.

Sementara itu, Arifah Fajri Kusumastuti menekankan bahwa keberhasilan penerapan teknologi lingkungan seperti ISLAH tidak hanya bergantung pada kecanggihan alat, tetapi juga pada faktor penerimaan sosial. Ia melihat peran sosiolog sangat penting dalam mendorong partisipasi aktif masyarakat agar teknologi tersebut dapat diadopsi menjadi budaya baru dalam memenuhi kebutuhan dasar secara mandiri.

Kepala Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman, Kamaludin, menjelaskan bahwa ISLAH sebenarnya dirancang lebih dari sekadar inovasi teknis. Menurutnya, ISLAH adalah gerakan perubahan pola pikir atau mindset masyarakat terhadap air hujan yang selama ini sering terbuang percuma. Ia memberikan materi komprehensif mulai dari tahapan penampungan, proses filtrasi, hingga teknik pemanfaatan hasil olahan air agar aman dikonsumsi.

“Kegiatan ini sejalan dengan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya pada aspek akses air bersih dan sanitasi layak. Mahasiswi diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengimplementasikan solusi nyata di tengah masyarakat. Kesadaran memanfaatkan air hujan harus dibangun sebagai bagian dari budaya hidup berkelanjutan,” ungkap Kamaludin dengan penuh semangat.

Integrasi antara ilmu sosiologi dan praktik pelestarian lingkungan ini diharapkan mampu mencetak lulusan yang adaptif dan solutif. Dengan memahami metode ISLAH, para mahasiswa diharapkan memiliki bekal strategis untuk mendorong kemandirian komunitas dalam menjaga ketahanan air secara berkelanjutan. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)