Makna Filosofis Pagelaran Wayang Kulit Dalam Upacara Adat Saparan Bekakak

  • Aug 22, 2024
  • Aryo Tejo
  • Seni Budaya

Sleman – Pagelaran wayang kulit pada malam Midodareni Pengantin Bekakak memiliki makna yang sangat mendalam, terutama dalam konteks tradisi Jawa dan upacara adat saparan di wilayah Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman. Wayang kulit sebagai salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional berfungsi tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga sebagai sarana penyampaian nilai-nilai filosofis dan spiritual yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat.

Hal ini dituturkan Sumaryanto selaku Lurah Ambarketawang dalam pembukaan pagelaran wayang kulit dengan lakon Bimo Kurdo yang dibawakan oleh Ki Dalang Bayu Aji Nugroho yang berlangsung di Pendapa Kantor Pemerintah Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Jumat malam (22/8/2024).

Sumaryanto mengingatkan pentingnya pelestarian budaya, seperti pagelaran wayang kulit sebagai bagian dari warisan leluhur yang harus dijaga bersama. Ia pun mengajak masyarakat  menghormati dan menghargai nilai-nilai budaya, serta memastikan bahwa generasi muda harus terlibat aktif dalam melestarikannya, demi membangkitkan semangat kebersamaan dan rasa memiliki terhadap tradisi lokal.

“Saya berharap pagelaran wayang kulit malam ini dapat memberikan hiburan sekaligus pelajaran moral bagi semua yang hadir. Cerita-cerita dalam wayang sarat dengan ajaran tentang kebaikan, kesabaran, dan keadilan yang perlu untuk direnungkan nilai-nilainya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya.

Adapun lakon Bimo Kurdo menceritakan perjalanan spiritual Werkudara atau Bhima dalam pencarian kesaktian dan penemuan jati diri sejatinya. Kisah ini dimulai dengan Bhima yang merasa masih belum cukup sakti meskipun telah memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia mendapat bisikan dari gurunya bahwa untuk mencapai kesempurnaan ilmu harus menjalani laku prihatin dan mendapatkan wahyu dari Dewa Ruci yaitu makhluk kecil yang memiliki bentuk serupa dengannya.

Bhima lantas menghadapi berbagai rintangan dalam perjalanannya, termasuk godaan dari para raksasa dan makhluk gaib yang berusaha menghalanginya. Namun, dengan kekuatannya yang besar dan keteguhan hatinya mampu mengatasi semua tantangan tersebut hingga bertemu dengan Dewa Ruci di dasar lautan.

Kemudian Dewa Ruci mengajarkan Bhima mengenai makna kehidupan sejati dan mengungkapkan bahwa kekuatan fisik dan kesaktian bukanlah segalanya. Namun, yang paling penting adalah kesadaran spiritual dan pemahaman tentang diri sendiri serta hubungannya dengan alam semesta sambil membawa Bhima ke dalam tubuhnya yang kecil demi memperoleh wawasan tentang asal-usul kehidupan, ketenangan batin, dan keselarasan dengan alam.

Pertunjukan wayang kulit di malam midodareni Pengantin Bekakak adalah refleksi dari nilai-nilai kehidupan yang harus dipegang melalui cerita yang disajikan untuk selalu menanamkan nilai-nilai kesabaran, kebijaksanaan, dan cinta kasih dalam hubungan keseharian, sehingga wayang kulit menjadi alat yang efektif guna menyampaikan pesan-pesan secara mendalam dan penuh makna.

(Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)