Materi Ke-Indonesia-an II Teguhkan Identitas Kebangsaan Kader Muda IPNU-IPPNU Sleman

  • Dec 06, 2025
  • Adnan Nurtjahjo
  • Pendidikan, Nasionalisme

Sleman - Penguatan karakter kebangsaan menjadi sorotan utama dalam kegiatan Latihan Kader Muda (Lakmud) dan Pendidikan Latihan Khusus (Diklatsus) yang diselenggarakan Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama – Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PC IPNU-IPPNU) Kabupaten Sleman di Gedung Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 5 Sleman, Sabtu (6/12/2025). 

Salah satu materi kunci yang dihadirkan adalah Ke-Indonesia-an II yang disampaikan oleh Pengurus Bidang II Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Sleman, Adnan Iman Nurtjahjo selaku narasumber. Materi tersebut dinilai krusial untuk membangun kesadaran generasi muda, khususnya kader IPNU-IPPNU, terhadap posisi strategis mereka dalam menjaga persatuan, merawat keragaman, serta memahami dinamika ke-Indonesia-an di tengah perubahan sosial yang semakin cepat. 

Dalam pemaparan interaktif yang dipandu oleh Muhammad Alfian Akbar selaku Wakil Ketua Bidang Jaringan Pesantren dan Sekolah PC IPNU Sleman, Adnan mengungkapkan bahwa pelajar hari ini tidak cukup hanya cerdas secara akademik, namun juga perlu memiliki akar budaya dan identitas kebangsaan yang kuat. Karena itu, diperlukan materi Ke-Indonesia-an II yang menekankan pentingnya kemampuan kader dalam membaca realitas sosial politik bangsa, memahami Pancasila dalam konteks kekinian, serta merawat moderasi beragama sebagai fondasi harmoni nasional. 

“Pelajar adalah segmen strategis yang harus dibekali kecakapan berpikir kritis terhadap isu-isu kebangsaan, sehingga tidak mudah terprovokasi oleh narasi intoleran yang berkembang di ruang digital,” tandasnya.

Kegiatan Lakmud dan Diklatsus ini tidak hanya menjadi ruang kaderisasi struktural, melainkan menjadi wadah pembentukan mental kebangsaan yang inklusif. Adnan menegaskan bahwa identitas IPNU-IPPNU harus selaras dengan identitas ke-Indonesia-an, sehingga kader mampu berdiri tegak di tengah perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya sebagai pelajar Nahdliyin.

Lebih lanjut, ia mengajak seluruh peserta untuk menempatkan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman konkret dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, Pancasila tidak boleh berhenti sebagai hafalan, tetapi harus menjadi praktik hidup, terutama bagi generasi muda yang kelak akan memegang peran strategis dalam kepemimpinan bangsa.

Sementara itu, Wakil Ketua Bidang Kaderisasi PC IPNU Sleman, Faris Abdurrahman menyampaikan apresiasi terhadap materi yang dianggap mampu membuka wawasan peserta perihal pentingnya memahami ke-Indonesia-an secara utuh. Ia menilai bahwa kehadiran materi ini sangat relevan, mengingat tantangan yang dihadapi pelajar di era digital semakin kompleks, mulai dari polarisasi, penyebaran hoaks, hingga penetrasi ideologi transnasional.

“Dengan penguatan materi-materi kebangsaan, kami berharap para kader muda mampu menjadi garda terdepan dalam merawat nilai-nilai ke-Indonesia-an di ruang belajar maupun ruang sosial,” ujar Faris.

Untuk melatih kemampuan analisis peserta dalam memecahkan masalah (problem solving), Adnan memberikan beberapa studi kasus guna menghadirkan tantangan yang relevan dengan kehidupan organisasi maupun kehidupan sosial pelajar. Di sini peserta belajar menyusun strategi, merumuskan solusi, dan memilih tindakan yang paling efektif atas setiap kasus yang dihadapi.

“Studi kasus diperlukan untuk melatih kader dalam membaca persoalan secara lebih mendalam, memahami akar masalah, aktor yang terlibat, serta potensi solusi. Ini penting dilakukan agar kader mampu mengambil keputusan berbasis data dan realitas lapangan,” pungkasnya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)