Memuliakan Tamu Sebagai Implementasi Akhlak Mulia Dalam Islam
- Apr 02, 2026
- Adnan Nurtjahjo
- Keagamaan
Sleman — Memuliakan tamu dalam pandangan Islam merupakan ajaran fundamental yang mencerminkan kesempurnaan iman seorang Muslim. Nilai ini tidak hanya dipahami sebagai etika sosial, tetapi juga sebagai bentuk ketaatan terhadap ajaran agama. Dalam kehidupan sehari-hari, sikap menghormati dan melayani tamu menjadi bagian dari implementasi akhlak mulia yang diajarkan Islam.
Menurut pengasuh Pondok Pesantren Sunan Pandanaran Sleman, Dr. KH. Mu’tashim Billah, memuliakan tamu berperan penting dalam mempererat hubungan antarmanusia. Kehadiran tamu sering kali menjadi momentum untuk membangun komunikasi, memperkuat silaturahmi, serta membuka ruang kolaborasi yang lebih luas.
“Sikap ramah, sopan, dan penuh perhatian kepada tamu menciptakan suasana yang hangat dan saling menghargai,” ujarnya.
Hal tersebut dituturkan putera ke-6 dari KH. Mufid Mas’ud sebagai pendiri Pondok Pesantren Sunan Pandanaran saat menerima kunjungan silaturahmi Rois Syuriah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kapanewon Gamping, KH. Ahmad Mabarun yang didampingi Ketua Tanfidziyah, Silahudin Djamil, Ketua Unit Pengelola Zakat Infaq dan Shodaqoh MWCNU Gamping, Suhartono, Ketua PAC Muslimat Kapanewon Gamping, Hariyani Mufidah, pengasuh Pondok Pesantren Al-Miftah Mlangi, Hj. Isnajauharoh dan Ketua Lembaga Perekonomian MWCNU Gamping, H. Imam Suwardi, Kamis (2/4/2026) di Aula Pandanaran.
Lebih dari itu, KH. Mu’tashim mengatakan bahwa tradisi memuliakan tamu juga sarat dengan nilai pendidikan karakter. Anak-anak yang dibiasakan menyambut tamu dengan baik akan tumbuh menjadi pribadi yang santun dan menghormati orang lain. Kebiasaan sederhana seperti menyapa, menawarkan minuman, hingga menjaga sikap selama tamu berada di rumah menjadi pelajaran penting yang berdampak jangka panjang.
Menurutnya, dari sisi keagamaan, memuliakan tamu memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Ajaran ini menekankan pentingnya memperlakukan tamu dengan penuh penghormatan sebagai bentuk implementasi nilai kemanusiaan dan keimanan. Oleh karena itu, sikap ini tidak hanya berdimensi sosial, tetapi juga spiritual.
Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, nilai memuliakan tamu kerap menghadapi tantangan. Kesibukan dan individualisme dapat mengurangi kualitas interaksi sosial, termasuk dalam menyambut tamu. Namun demikian, menjaga tradisi ini tetap relevan menjadi penting sebagai upaya mempertahankan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.
“Pelayanan yang baik akan menciptakan reputasi positif, sedangkan sikap acuh tak acuh dapat menimbulkan persepsi negatif,” tandas KH. Mu’tashim.
Di era globalisasi, memuliakan tamu memiliki relevansi dalam membangun hubungan lintas budaya. Sikap terbuka dan menghargai tamu dari latar belakang berbeda dapat memperkuat toleransi serta memperkaya wawasan. Sehingga, nilai ini menjadi jembatan dalam menciptakan hubungan yang harmonis di tengah keberagaman.
Menutup perbincangannya, KH. Mu’tashim menekankan bahwa memuliakan tamu tidak sekadar tradisi, melainkan nilai fundamental dalam kehidupan. Upaya untuk terus menanamkan dan mengamalkan sikap ini menjadi penting, agar masyarakat tetap menjunjung tinggi etika, memperkuat hubungan sosial, serta menjaga keharmonisan dalam kehidupan bersama. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)