Menjaga Marwah NU Melalui Khidmat Yang Independen

  • Apr 02, 2026
  • Adnan Nurtjahjo
  • Keagamaan

Sleman — Semangat berkhidmat di Nahdlatul Ulama (NU) kembali ditegaskan sebagai panggilan moral yang harus dijalankan dengan penuh integritas dan keikhlasan, tanpa ditunggangi kepentingan politis. Nilai pengabdian ini dinilai menjadi fondasi utama dalam menjaga marwah organisasi sekaligus memperkuat peran NU sebagai penjaga tradisi keislaman yang moderat di Indonesia.

“Integritas menjadi kunci utama agar setiap langkah pengabdian tetap berada pada koridor yang benar dan tidak menyimpang dari tujuan awal berdirinya Nahdlatul Ulama,” terang KH. Mas'ud Masduki saat menerima kunjungan pengurus Majelis Wakil Cabang nahdlatul Ulama Kapanewon Gamping, Kamis malam (2/4/2026) di kediamannya.

KH. Mas'ud Masduki yang juga Pengasuh Pondok  Ar-Robithoh, Krapyak Lor, Sleman menekankan bahwa khidmat bukan sekadar aktivitas organisasi, melainkan bentuk pengabdian total kepada umat, bangsa, dan nilai-nilai keislaman Ahlussunnah wal Jamaah.

Ia menyebutkan, tantangan terbesar organisasi Nahdlatul Ulama saat ini adalah infiltrasi kepentingan pragmatis, khususnya politik praktis. Ketika kepentingan tersebut masuk tanpa kendali, maka orientasi pengabdian berpotensi bergeser dari pelayanan umat menjadi alat kepentingan kelompok tertentu.

“Menjaga independensi organisasi menjadi hal yang tidak bisa ditawar. NU sebagai organisasi besar dengan basis massa yang luas harus mampu berdiri di atas semua golongan, tanpa terjebak dalam tarik-menarik kepentingan politik yang dapat memecah belah jama’ah,” ujar KH. Mas’ud Maduki.

Lebih jauh, integritas dalam berkhidmat juga berkaitan erat dengan akuntabilitas dan transparansi dalam menjalankan amanah organisasi. Setiap program dan kegiatan harus dilandasi niat tulus serta dijalankan secara profesional, sehingga memberikan manfaat nyata bagi umat.

Sementara itu, Rois Syuriah MWCNU Gamping, KH. Ahmad Mabarun menuturkan, di tengah berbagai tantangan zaman, pihaknya menyadari bahwa peran ulama sangat penting sebagai penuntun arah, agar langkah organisasi tetap berada pada jalur yang benar dan tidak keluar dari prinsip-prinsip yang telah diwariskan oleh para pendiri Nahdlatul Ulama.

KH. Mabarun meyakini, keberlangsungan jam’iyah Nahdlatul Ulama tidak lepas dari doa, bimbingan, dan keteladanan para ulama. Oleh karena itu, silaturahmi seperti ini harus terus dijaga sebagai tradisi yang menguatkan ruh organisasi.

“Kunjungan ini sebagai bagian dari ikhtiar kita untuk menjaga sanad keilmuan, mempererat ukhuwah, serta mengambil keberkahan dari para masyayikh dan sesepuh,” tandasnya.

Dalam kesempatan ini, KH. Mabarun juga memohon doa dan restu kepada KH. Mas’ud Maduki agar seluruh pengurus MWCNU Gamping senantiasa diberikan kekuatan dan keistiqamahan dalam berkhidmat, menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, serta mampu menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)