Menulis Feature Itu Tak Sulit

  • Mar 30, 2026
  • Adnan Nurtjahjo
  • Literasi

Sleman — Menulis feature kerap dianggap sulit oleh sebagian orang, terutama bagi penulis pemula yang terbiasa dengan gaya berita straight news. Padahal, feature justru menawarkan ruang kreativitas yang lebih luas karena tidak terikat pada pola 5W+1H secara kaku. Dengan pendekatan yang tepat, menulis feature bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan sekaligus produktif.

Feature pada dasarnya adalah karya jurnalistik yang mengedepankan sisi human interest, kedalaman cerita, dan kekuatan narasi. Berbeda dengan berita langsung yang fokus pada fakta utama, feature mengajak pembaca merasakan suasana, emosi, dan pengalaman dari objek yang diangkat. Inilah yang membuat feature memiliki daya tarik tersendiri.

Hal tersebut diungkapkan Hudono selaku Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Daerah Istimewa Yogyakarta dalam kegiatan peningkatan kapasitas bagi Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) yang digelar Dinas Komunikasi dan Informatika Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (30/3/2026) di Aula Kresna.

Menurut Hudono, kunci utama dalam menulis feature adalah menemukan sudut pandang yang menarik. Topik sederhana sekalipun dapat menjadi tulisan yang kuat jika dikemas dengan perspektif yang unik. 

“Penulis perlu jeli melihat potensi cerita di balik peristiwa sehari-hari, termasuk kisah inspiratif, tradisi lokal, hingga fenomena sosial di masyarakat,” tandasnya dihadapan puluhan peserta.

Selain itu, kata Hudono, penulisan lead atau paragraf pembuka menjadi elemen penting dalam feature. Lead tidak harus langsung menyajikan inti informasi, melainkan bisa berupa deskripsi, kutipan, atau pertanyaan yang menggugah rasa penasaran pembaca. Lead yang kuat akan menentukan apakah pembaca akan melanjutkan membaca atau tidak.

Dalam proses penulisan, penggunaan bahasa yang deskriptif sangat dianjurkan. Penulis feature dituntut mampu “melukiskan” suasana melalui kata-kata, sehingga pembaca seolah-olah berada di lokasi kejadian. Namun demikian, deskripsi tetap harus relevan dan tidak berlebihan agar alur cerita tetap terjaga.

Struktur feature juga lebih fleksibel dibandingkan berita langsung. Meski demikian, penulis tetap perlu menyusun alur yang runtut, mulai dari pembukaan, pengembangan cerita, hingga penutup yang memberikan kesan mendalam. Penutup feature biasanya bersifat reflektif atau mengandung pesan tertentu.

“Riset dan observasi menjadi faktor penting dalam memperkaya tulisan feature. Data yang akurat, wawancara dengan narasumber, serta pengamatan langsung akan memberikan kedalaman pada cerita. Dengan begitu, feature tidak hanya menarik secara naratif, tetapi juga kuat secara substansi,” imbuh Hudono.

Latihan secara konsisten menjadi kunci agar kemampuan menulis feature semakin terasah. Penulis dapat memulai dari hal-hal sederhana di sekitar lingkungan, kemudian mencoba mengembangkan gaya bertutur yang khas. Semakin sering berlatih, semakin mudah pula menemukan ritme penulisan.

Dengan memahami teknik dasar dan terus berlatih, menulis feature sebenarnya bukanlah hal yang sulit. Justru, feature menjadi sarana bagi penulis untuk mengekspresikan ide dan menyampaikan cerita secara lebih hidup. Pada akhirnya, keberhasilan sebuah feature terletak pada kemampuan penulis dalam menyentuh hati pembaca melalui kisah yang disajikan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)