Merajut Kedamaian Lewat Pengajian dan Sholawat di Kenduri Banyu Udan Sleman

  • Sep 08, 2025
  • Adnan Nurtjahjo
  • Keagamaan

Sleman – Suasana khidmat terasa menyelimuti halaman Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Sleman, pada Senin (8/9/2025). Lantunan sholawat di sela pengajian menggema bersama doa dan zikir yang dipanjatkan oleh ratusan jamaah yang hadir dalam rangkaian acara Kenduri Banyu Udan ke-10.

Kehangatan spiritual tersebut menjadi penanda bahwa perayaan ini bukan sekadar seremoni kebudayaan, melainkan juga momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kegiatan pengajian dan sholawat yang digelar memiliki makna penting sebagai wujud kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW serta pengikat kebersamaan antarwarga.

Jamaah yang hadir, mulai dari remaja hingga orang tua, duduk dengan penuh kekhusyukan. Mereka larut dalam lantunan doa, menyatukan hati dalam kebersamaan spiritual yang menyejukkan.

Lebih lanjut, Founder Sekolah Air Hujan Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih menerangkan bahwa pengajian dan sholawat ini digelar sebagai penyeimbang antara aspek budaya, lingkungan, dan religius.

“Air hujan adalah anugerah dari Allah SWT, maka syukur kita harus diwujudkan dengan doa dan dzikir,” ucapnya.

Pengajian yang menghadirkan Kyai Chamdani Yusuf dari Pondok Pesantren Inayatullah Yogyakarta ini, memberikan ruang refleksi bahwa manusia memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kelestarian alam, termasuk air hujan yang menjadi tema sentral Kenduri Banyu Udan. Perpaduan ini melahirkan kesadaran spiritual sekaligus ekologis yang saling menguatkan.

Tauziyah yang disampaikan Kyai Chamdani menyoroti pentingnya menjaga air sebagai sumber kehidupan. Pesan ini sejalan dengan semangat Sekolah Air Hujan Banyu Bening yang sejak awal berdiri mengusung misi ekologis. Dengan cara tersebut, nilai agama dan lingkungan tidak lagi dipisahkan, melainkan dipertautkan untuk membentuk kesadaran baru masyarakat.

“Dengan bersholawat dan mengikuti pengajian, menjadi wadah untuk mempererat tali silaturahmi, sekaligus bersyukur atas limpahan hujan dan saling menguatkan dalam menghadapi tantangan hidup. Kehangatan sosial ini menjadi bukti bahwa spiritualitas mampu memperkokoh harmoni komunitas,” ujar Kyai Chamdani.

Selain pengajian, acara juga dimeriahkan dengan lantunan sholawat yang ditampilkan Grup Hadroh An-Nisa Pagergunung dan Grup Hadroh Al-Hidayah Tempursari.

Wahyuningsih mengatakan, sholawat merupakan cara umat muslim mengingat Nabi Muhammad SAW yang juga mengajarkan pentingnya menjaga alam semesta. Melalui sholawat, peserta diajak untuk menguatkan kecintaan kepada Rasulullah sekaligus meneladani akhlaknya dalam menjaga kehidupan.

Dengan hati yang tenteram dan jiwa yang penuh syukur, warga mampu menikmati Kenduri Banyu Udan sebagai perayaan budaya, sekaligus momentum spiritual yang menguatkan iman sekaligus meneguhkan rasa syukur atas karunia Allah SWT.

Pengajian dan sholawat di Kenduri Banyu Udan ke-10 sebagai ruh yang menghadirkan keseimbangan antara rasa syukur, nilai religius, kebudayaan, dan kepedulian terhadap lingkungan. Dari sini, masyarakat dapat belajar bahwa menjaga air hujan sebagai sumber kehidupan sejatinya merupakan bagian dari ibadah dan bentuk cinta kepada Sang Pencipta. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)