Metode An-Nahdliyah Sebagai Pondasi Pendidikan Islam Sejak Dini
- Aug 05, 2025
- Adnan Nurtjahjo
- Pendidikan, Keagamaan
Sleman – Metode An-Nahdliyah memiliki peran penting dalam membentuk sistem pembelajaran Al-Qur’an yang terstruktur, moderat, dan sesuai dengan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah. Dalam Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), metode ini bukan sekadar alat bantu teknis, melainkan juga sarana untuk menanamkan karakter dan tradisi keilmuan Islam ala Nahdlatul Ulama sejak usia dini.
Dengan pola yang rapi dan sistematis, santri TPQ diarahkan tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, tetapi juga memahami adab, akhlak, dan nilai-nilai kebangsaan. Hal ini dikatakan pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ishlahiyyah Sleman, H.M. Najib Yuliantoro dalam rutinan muroja’ah dan koordinasi metode An Nahdliyah yang berlangsung di Pondok Pesantren Insan Nafia, Cangkringan, Sleman, Selasa (5/8/2025).
Menurutnya, metode An-Nahdliyah merupakan salah satu metode yang cukup populer dan memiliki akar rumput yang kuat di Indonesia dan tercatat di Kementerian Agama Republik Indonesia sebagai salah satu metode tertua di Indonesia sekitar 23 tahun.
Selain itu, dalam TPQ An-Nahdliyah ada tiga hal yang perlu diperhatikan yaitu pertama, adanya Sanad yang jelas. Metodenya membutuhkan perlakuan khusus. Ciri khasnya ada di ketukan dan wajib menggunakan tongkat sebagai titian. Memiliki target satu jilid diselesaikan dalam satu bulan.
Kedua, manajemen majelis pembina Sleman telah berbadan hukum dan resmi tercatat di Kementerian Agama RI. Ketiga, tingkat kepengurusan berada di koordinator kecamatan, kabupaten, dan pusat.
Adapun kantor pusat majelis pembina Sleman berada di Pondok Nurul Ishlahiyyah Bakungan. Sedangkan Pondok Insan Nafia Cangkringan menjadi pusat Pendidikan dan Latihan.
Keunggulan utama metode ini terletak pada penyusunan materi yang bertahap dan terukur, mulai dari pengenalan huruf hijaiyah hingga bacaan tartil yang sesuai dengan kaidah tajwid. Setiap jenjang belajar sudah disusun sesuai kemampuan anak, sehingga proses belajar lebih terarah dan minim kebingungan.
“Kehadiran buku panduan, sistem penilaian, dan pelatihan guru secara berkala menjadikan metode An-Nahdliyah unggul dalam menjaga kualitas pengajaran di TPQ,” terang Gus Najib.
Dalam metode ini juga ditekankan pentingnya sanad keilmuan dan adab murid terhadap guru. Santri tidak hanya belajar secara kognitif, tetapi juga secara spiritual dan moral. Kegiatan seperti muroja’ah, hafalan, serta pembiasaan ibadah harian menjadi bagian integral dari metode ini. Dengan demikian, TPQ bukan hanya tempat belajar membaca Al-Qur’an, tetapi juga menjadi ruang pembentukan kepribadian santri yang berkarakter Islami dan nasionalis.
Penerapan Metode An-Nahdliyah juga memperkuat solidaritas antar-TPQ dalam satu jaringan yang terorganisir. Hal ini penting agar lembaga pendidikan Al-Qur’an tidak berjalan sendiri-sendiri. Melainkan saling mendukung dalam hal kurikulum, pelatihan guru, hingga program pengembangan anak. Koordinasi antar-TPQ pun memungkinkan pertukaran pengalaman dan peningkatan mutu secara kolektif.
Dengan mengusung prinsip “Belajar Al-Qur’an dengan Gembira dan Terarah”, metode An-Nahdliyah menjadi pilihan tepat bagi TPQ dalam menanamkan kecintaan anak-anak terhadap Al-Qur’an. Di tengah tantangan zaman dan perkembangan teknologi, pendekatan pembelajaran yang adaptif namun tetap berakar pada nilai-nilai tradisi seperti ini menjadi kunci dalam menjaga generasi Qur’ani yang cerdas, santun, dan cinta tanah air. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)