Miliki Aturan Terstandar, Permainan Terompah Panjang Menjadi Cabor Tradisional

  • Jun 13, 2026
  • Adnan Nurtjahjo
  • Olahraga

Sleman — Permainan terompah panjang atau bakiak kini diakui sebagai salah satu cabang olahraga (Cabor) tradisional karena telah memiliki aturan perlombaan yang terstandar. Dalam berbagai festival dan perlombaan olahraga tradisional, permainan ini dilaksanakan berdasarkan ketentuan yang jelas, mulai dari jumlah peserta dalam satu regu, panjang lintasan, tata cara pertandingan, hingga mekanisme penentuan pemenang oleh wasit, sehingga memperkuat eksistensinya sebagai olahraga berbasis budaya yang terorganisasi dan kompetitif, seperti yang diungkapkan Wijang Wahyu Wiwoho selaku Pengurus Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) Sleman dalam pelatihan wasit permainan dan olahraga tradisional Batch III di Gedung Youth Center Kabupaten Sleman, Sabtu (13/6/2026).

Menurutnya, perkembangan tersebut tidak terlepas dari adanya unsur-unsur dasar olahraga yang melekat dalam permainan ini, seperti aktivitas fisik, aturan yang jelas, kompetisi, keterampilan, serta pembentukan karakter yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berkelanjutan.

Sebagai aktivitas yang melibatkan gerak tubuh secara aktif, permainan bakiak memberikan manfaat bagi kebugaran jasmani para pemainnya. Dalam pelaksanaannya, peserta harus berjalan atau berlari bersama menggunakan papan kayu panjang dengan langkah yang serempak. Aktivitas tersebut melatih keseimbangan tubuh, koordinasi gerak, daya tahan fisik, serta kekuatan otot, sehingga memberikan manfaat yang sejalan dengan tujuan olahraga pada umumnya.

“Permainan bakiak mengandung unsur kompetisi yang kuat. Perlombaan biasanya dilakukan antar regu yang terdiri atas tiga hingga lima orang yang harus berjalan secara serempak menuju garis finis. Adanya persaingan yang sehat, penentuan pemenang, serta penerapan aturan pertandingan menjadikan permainan ini memenuhi salah satu karakteristik utama sebuah cabang olahraga,” jelas Wijang.

Keberhasilan dalam permainan bakiak tidak hanya bergantung pada kecepatan bergerak, melainkan kemampuan setiap anggota tim dalam menjaga kekompakan. Para pemain dituntut mampu menyelaraskan langkah, mempertahankan keseimbangan, serta mengatur ritme gerakan secara bersama-sama. Kemampuan tersebut memerlukan latihan yang berkesinambungan sehingga aspek keterampilan dan teknik menjadi bagian penting dalam permainan ini.

Sebagai olahraga tradisional, bakiak tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik semata, tetapi juga melatih kemampuan komunikasi dan kerja sama antar pemain. Setiap anggota tim dituntut untuk memiliki ritme langkah yang sama agar dapat bergerak maju dengan stabil tanpa kehilangan keseimbangan. Kondisi ini menjadikan permainan bakiak sebagai media pembelajaran yang efektif dalam membangun semangat kebersamaan.

Wijang menilai bahwa permainan bakiak memiliki manfaat yang sangat positif bagi perkembangan karakter peserta. Selain meningkatkan kebugaran jasmani, permainan ini juga menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, kepemimpinan, serta kemampuan menyelesaikan masalah secara kolektif. Nilai-nilai tersebut sangat relevan dalam kehidupan bermasyarakat maupun dunia pendidikan.

“Kehadiran berbagai kompetisi tersebut sebagai upaya nyata untuk menjaga eksistensi permainan rakyat agar tidak tergerus oleh perkembangan teknologi dan maraknya permainan digital yang semakin diminati generasi muda,” tandasnya.

Pengembangan olahraga tradisional bakiak saat ini terus didorong melalui berbagai program pembinaan, pelatihan, hingga penyelenggaraan festival tingkat daerah maupun nasional. Berbagai inovasi juga dilakukan untuk meningkatkan daya tarik permainan, termasuk modifikasi peralatan dan pengemasan kompetisi yang lebih modern tanpa menghilangkan nilai tradisional yang terkandung di dalamnya.

Dengan berbagai manfaat yang dimiliki, permainan terompah panjang atau bakiak layak dipertahankan sebagai warisan budaya, sekaligus dikembangkan sebagai olahraga tradisional yang mampu memperkuat karakter, kebersamaan, dan identitas bangsa agar dapat diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)