Mitigasi Kekeringan, Sekolah Air Hujan Banyu Bening Kembangkan Teknologi ISLAH dan Elektrolisa Berbasis Masyarakat
- May 10, 2026
- Adnan Nurtjahjo
- Lingkungan Hidup
Sleman — Ancaman bencana kekeringan yang kian sering terjadi akibat perubahan iklim mendorong munculnya inovasi pengelolaan sumber daya air secara mandiri. Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman kini tengah menggencarkan metode Instalasi Lumbung Air Hujan (ISLAH) yang dipadukan dengan teknologi elektrolisa sebagai langkah nyata mitigasi krisis air bersih berbasis masyarakat dan pelaku usaha.
Langkah konservasi ini menarik minat pelaku usaha lokal, salah satunya Umi Farida, pengusaha Bolu Susu di kawasan Jalan Kaliurang, Sleman. Sebagai bentuk nyata pengurangan risiko bencana, ia telah memasang instalasi pengelolaan air hujan di tiga lokasi berbeda. Di kediamannya, Minggu (10/5/2026), Umi menjelaskan bahwa instalasi tersebut memiliki kapasitas tampung hingga 2.000 liter yang berfungsi sebagai cadangan air bersih saat musim kemarau tiba.
Menurut Umi Farida, kebutuhan akan solusi penyimpanan air bersih semakin mendesak di tengah ancaman krisis air yang mulai dirasakan di berbagai daerah. Dengan menggandeng SAH Banyu Bening, ia berupaya mengubah persepsi bahwa air hujan bukan sekadar sisa alam yang terbuang, melainkan aset yang bisa dikelola secara bijak melalui sistem yang sederhana namun efektif.
“Metode ISLAH menjadi salah satu inovasi unggulan karena dinilai sederhana, mudah diterapkan, dan efektif dalam mendukung ketahanan air masyarakat. Sistem ini juga menjadi bentuk adaptasi terhadap perubahan iklim sekaligus solusi konkret menghadapi ancaman kekeringan. Kami berencana memperluas penerapan ISLAH ini ke jaringan usaha kami di Yogyakarta dan Surakarta secara bertahap sebanyak 15 unit,” ujar Umi Farida dengan antusias.
Pendiri SAH Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih, menjelaskan bahwa metode ISLAH bekerja dengan cara menangkap air hujan dari atap rumah untuk dialirkan ke dalam tandon penyimpanan. Inovasi ini menjadi jawaban bagi wilayah yang mulai mengalami penurunan cadangan air tanah. Selain penampungan, pihaknya juga menerapkan teknologi elektrolisa, yakni proses pemisahan senyawa melalui arus listrik untuk meningkatkan kualitas air sehingga lebih aman dan layak untuk konsumsi domestik.
Sri Wahyuningsih menekankan bahwa selama ini air hujan belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat luas. Padahal, dengan pengelolaan yang tepat, air hujan dapat mengurangi ketergantungan terhadap sumur air tanah dan membantu menjaga keseimbangan ekosistem lingkungan. Hal ini sekaligus menjadi bagian dari kampanye kemandirian air yang dimulai dari skala rumah tangga hingga sektor industri.
“Sistem ini bekerja dengan cara menampung air hujan dari atap rumah untuk kemudian disimpan dalam tandon atau lumbung air sebagai cadangan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat. Inovasi ini diharapkan tidak hanya menjadi solusi teknis pengelolaan air, tetapi juga mampu membangun gerakan sosial yang mendorong terciptanya kehidupan yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan,” tutur Sri Wahyuningsih.
Melalui sinergi antara pusat edukasi dan pelaku usaha ini, pengelolaan air hujan diharapkan menjadi tren positif dalam menjaga kelestarian lingkungan. Langkah tersebut membuktikan bahwa mitigasi bencana kekeringan dapat dimulai dengan tindakan sederhana namun berdampak luas bagi ketahanan air nasional di masa depan. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)