Mitigasi Risiko Kolesterol Tinggi, Lansia di Gamping Sleman Diimbau Jaga Pola Makan Jelang Hari Raya Idul Adha
- May 31, 2026
- Adnan Nurtjahjo
- Kesehatan
Sleman — Melimpahnya hidangan berbasis daging merah pada momentum perayaan Hari Raya Iduladha kerap memicu kekhawatiran terhadap lonjakan kasus penyakit tidak menular (PTM) di kalangan kelompok lanjut usia (lansia). Merespons potensi kerentanan medis tersebut, edukasi preventif digulirkan melalui forum Kajian Sehat Rohani Jasmani (Seroja) Banyuraden yang bertempat di Pendopo Kekandhangan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, pada Minggu (31/5/2026).
Langkah jemput bola ini dihadirkan sebagai instrumen taktis untuk meningkatkan literasi nutrisi bagi warga senior di wilayah suburban Sleman. Dalam pemaparannya, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (UII), Mahdea Kasyiva, bertindak sebagai narasumber utama yang membedah korelasi langsung antara penurunan laju metabolisme tubuh lansia dengan konsumsi makanan tinggi lemak jenuh secara tidak terkontrol selama hari raya kurban.
Mahdea menekankan bahwa pertambahan usia secara biologis menurunkan efisiensi organ tubuh dalam mencerna lemak dan menyaring kolesterol. Oleh karena itu, konsumsi daging kambing maupun sapi secara berlebihan dan berturut-turut dalam porsi besar berisiko tinggi memicu penyumbatan pembuluh darah, serangan hipertensi akut, peningkatan kadar kolesterol total, hingga komplikasi jantung yang fatal.
“Idul adha merupakan momentum sakral untuk beribadah dan merayakan rasa syukur bersama keluarga, sehingga jangan sampai kebahagiaan tersebut justru terganggu oleh serangan penyakit akibat pola makan yang tidak terkontrol. Kunci utama keselamatan kesehatan lansia saat hari raya adalah menerapkan prinsip makan secukupnya. Membatasi porsi makan secara disiplin akan sangat membantu menjaga stabilitas tubuh tetap prima, sehingga esensi ibadah dan silaturahmi menjadi jauh lebih bermakna tanpa harus berakhir di ruang perawatan rumah sakit,” ujar Mahdea Kasyiva di hadapan ratusan jamaah lansia yang hadir.
Selain membatasi kuantitas porsi, Mahdea juga membagikan tips klinis mengenai modifikasi teknik pengolahan menu kurban yang lebih higienis dan aman bagi pencernaan lansia. Masyarakat diimbau untuk memprioritaskan metode memasak dengan cara direbus, dikukus, atau dipanggang tanpa arang berlebih, serta meminimalkan penggunaan minyak goreng deep-fry dan santan kental yang berpotensi melipatgandakan kadar kalori hidangan.
Pihak otoritas kesehatan mengingatkan bahwa asupan protein hewani dari daging kurban wajib diimbangi dengan konsumsi serat larut dari sayur-sayuran dan buah-buahan segar sebagai pengikat lemak di dalam usus. Kecukupan pemenuhan cairan melalui air putih juga menjadi aspek yang tidak boleh diabaikan untuk mencegah dehidrasi dan menjaga kinerja sistem ekskresi ginjal para lansia tetap seimbang.
Para peserta paruh baya tampak sangat responsif selama sesi diskusi interaktif, yang ditandai dengan munculnya draf pertanyaan seputar cara mengelola menu harian bagi penderita diabetes dan darah tinggi di tengah kepungan hidangan bersantan. Melalui pembekalan komprehensif ini, warga Banyuraden diharapkan tidak hanya terjebak pada euforia kuliner sesaat, melainkan mampu mengadopsi gaya hidup aktif seperti jalan kaki ringan demi membakar kalori harian dan menjaga kebugaran otot di usia senja. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)