Modinan Bersholawat, Menyatukan Perbedaan Demi Merawat Kebhinekaan

  • Aug 18, 2025
  • Adnan Nurtjahjo
  • Keagamaan

Sleman – Ratusan warga dari berbagai lapisan masyarakat berkumpul di lapangan RT. 08 RW. 21 Modinan, Gamping, Sleman, Senin (18/8/2025) mengikuti acara Modinan Bersholawat bertajuk Bersama dalam Perbedaan Menguatkan Ukhuwah dan Merawat Kebhinekaan. Kegiatan ini menjadi puncak rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia yang digagas oleh muda-mudi Islam setempat.

Diiringi grup hadroh Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta, Kyai Misbahul Anam menyampaikan pentingnya menjaga ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan dalam ikatan kebangsaan), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia secara umum) bagi warga negara Indonesia.

Menurutnya Kyai Misbahul, ukhuwah Islamiyah menjadi benteng dari perpecahan. Perbedaan pendapat, mazhab, atau latar belakang sosial tidak boleh menjadi alasan untuk saling menjatuhkan. Justru dengan menjaga ukhuwah, perbedaan dapat dikelola menjadi kekayaan yang memperkaya cara pandang dan memperluas wawasan umat.

“Persatuan yang kokoh akan melahirkan kekuatan besar dalam menjaga harmoni dan kebaikan bersama,” ucapnya.

Sebagai umat mayoritas di Indonesia, umat Islam memiliki peran penting dalam merawat kedamaian. Jika ukhuwah tetap terjaga, maka umat Islam dapat menjadi teladan bagi masyarakat luas dalam hal toleransi, solidaritas, dan cinta tanah air. Dengan begitu, ukhuwah bukan hanya untuk kepentingan umat Islam saja, melainkan juga bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia

Selanjutnya, ukhuwah wathaniyah pun perlu dijaga karena bangsa Indonesia terdiri dari beragam suku, agama, bahasa, dan budaya. Perbedaan ini adalah anugerah yang bisa menjadi kekuatan besar jika dirawat dengan baik.

“Lebih jauh, ukhuwah wathaniyah juga merupakan wujud nyata cinta tanah air dan penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan,” lanjutnya.

Ukhuwah basyariyah perlu dijaga karena setiap manusia pada dasarnya adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang memiliki derajat yang sama. Menjaga ukhuwah basyariyah berarti mengakui nilai-nilai universal kemanusiaan, seperti kasih sayang, saling menghormati, dan menjaga hak-hak sesama.

“Ketika manusia mampu melihat sesamanya sebagai saudara, maka rasa benci, diskriminasi, dan permusuhan dapat diminimalisir,” imbuh Kyai Misbahul bersemangat.

Ia juga mengajak seluruh warga Modinan dan sekitarnya mendidik anaknya secara baik karena keluarga merupakan sekolah pertama bagi seorang anak. Di keluargalah, anak dapat belajar mengenai nilai, sikap, dan perilaku yang akan membentuk karakter mereka di masa depan.

Di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang begitu cepat, anak membutuhkan bimbingan agar tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif. Orang tua berperan sebagai pengarah, sehingga anak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah dalam kehidupannya.

Anak yang terbiasa dididik dengan disiplin, tanggung jawab, dan kerja keras sejak kecil akan lebih siap menghadapi dunia luar. Hal ini membuat mereka tidak hanya pintar secara akademik, namun juga tangguh secara mental dan sosial. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)