Ngobrol Inspirasi: Menggali Budaya Menampung Air Hujan untuk Hidup Lebih Berkualitas
- Sep 09, 2025
- Adnan Nurtjahjo
- Lingkungan Hidup
Sleman – Ngobrol inspirasi menjadi salah satu ruang dialog yang digagas oleh Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman dalam rangka mendorong kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pemanfaatan air hujan. Kegiatan yang berlangsung di Tempursari, Sleman, Selasa (9/9/2025) ini sebagai wadah untuk menghidupkan kembali budaya lama yang kini semakin jarang dilakukan masyarakat yaitu menampung dan memanfaatkan air hujan sebagai sumber kehidupan.
Di tengah krisis air bersih yang mulai dirasakan di berbagai daerah, terutama saat musim kemarau panjang, pemikiran tentang air hujan hadir sebagai solusi yang sederhana namun berdaya guna. Melalui forum ini, para peserta diajak untuk menyadari bahwa air hujan yang selama ini dianggap biasa, sebenarnya menyimpan potensi besar bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Adapun narasumber dalam diskusi pemanfaatan air hujan antara lain Direktur Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Pangarso Suryotomo, Direktur Eksekutif Ecological Observation and Wetlands Conservation, Daru Setyorini, Manajer Pusat Penelitian Sumberdaya Manusia dan Lingkungan Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, Suyud Warno Utomo, Kepala Balai Wilayah Sungai Serayu Opak, Maryadi Utama, Guru Besar Fakultas Teknologi Mineral dan Energi Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno, dan Pimpinan Komunitas Banyu Bening Sleman, Kamaludin.
Selain membuka ruang refleksi bersama, para peserta berdiskusi mengenai cara-cara sederhana mengelola air hujan agar tetap higienis. Kesadaran ini penting, sebab kualitas hidup masyarakat tidak bisa dilepaskan dari kualitas air yang mereka konsumsi. Dengan begitu, pemanfaatan air hujan menjadi bagian dari strategi menjaga kesehatan.
Direktur Eksekutif Ecological Observation and Wetlands Conservation, Daru Setyorini mengatakan budaya menampung air hujan memiliki dampak ekologis yang signifikan. Dengan memanfaatkan air hujan, masyarakat membantu mengurangi beban penggunaan air tanah yang selama ini dieksploitasi berlebihan.
“Langkah kecil ini mampu berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan hidup,” katanya.
Menurut Daru, perubahan cara pandang terhadap air hujan adalah kunci. Jika dulu air hujan sering dianggap kurang layak, kini dengan teknologi sederhana seperti penyaringan dan penyimpanan yang tepat menjadikan air hujan menjadi alternatif sumber air bersih yang aman.
Ia pun mengajak masyarakat untuk lebih inovatif dalam menjaga sumber daya air.
Sementara itu, Pimpinan Komunitas Banyu Bening Sleman, Kamaludin berharap SAH Banyu Bening Sleman dapat dijadikan ruang pembelajaran sosial bagi akademisi, pemerintah daerah, dan masyarakat pegiat lingkungan untuk bertukar gagasan.
“Dari percakapan sederhana lahir semangat kolaborasi dalam mengembangkan budaya pemanfaatan air hujan secara lebih luas dan berkelanjutan,” ujarnya.
Pemanfaatan air hujan yang didorong melalui kegiatan ini memberi arah baru bagi masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Dari Sleman, semangat ini bisa menjadi contoh bagi daerah lain bahwa dengan kembali pada kearifan air hujan, sesungguhnya masyarakat sedang melangkah menuju masa depan yang lebih sehat dan lestari. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)